Mengembangkan Bioetanol, Pak Jokowi Bisa Tiru Los Angeles Nih!
Rabu, 25 Agustus 2021 - 19:17 WIB
loading...
A
A
A
Selain pengalaman Amerika, konteks yang paling dekat dengan Indonesia adalah pengalaman Filipina dalam hal implementasi bioetanol dengan mandat pemerintahnya yang sudah berlaku sejak 2009. Dukungan dari pemerintah Filipina terkait mandat bioetanol di dalam negeri telah tercantum ke dalam program nasional dan diproyeksikan untuk terus dilakukan hingga 2030.
Berjalannya mandat pemerintah Filipina untuk implementasi bioetanol selama 2009 sampai 2016 telah memberikan dampak positif seperti pengurangan emisi karbon sebesar 10 metrik ton atau sekitar 55,5 persen lebih rendah dibanding emisi dari bensin murni campuran MTBE penghematan forex sebesar 48 miliar peso Filipina, penghentian penggunaan MBTE pada bensin, dan terciptanya lapangan pekerja di pedesaan di sektor pertanian hingga 1,2 juta pekerja.
Baca Juga: Taliban Tidak Izinkan Evakuasi Warga Afghanistan
Di samping itu, studi dari Universitas Filipina Los Blanos tahun 2020 mengenai skenario implementasi bioetanol pada tahun 2020-2030, menyatakan bahwa skenario terbaik adalah pada implementasi E20-E untuk 2020 dengan menggunakan impor etanol yang lebih murah untuk melengkapi stok lokal.
Adapun beberapa manfaat yang didapat dari hasil studi tersebut, antara lain pengurangan 3.4 metrik ton gas emisi pada 2020 dan pengurangan 28,2 juta ton gas emisi untuk jangka waktu 2020-2030, penghematan forex sebesar 18 miliar peso Filipina, penciptaan lapangan pekerjaan di pedesaan dan juga perbaikan neraca perdagangan.
Sebagai informasi, berdasarkan Climate Transparency Report 2020 mengenai perkembangan upaya pengurangan emisi di negara G20, sektor transportasi di Indonesia menyumbang emisi karbon sebesar 27 persen. Pemerintah juga menargetkan pencapaian bauran energi baru dan terbarukan (Energy Mix) di Indonesia sebesar 23 persen hingga 2025.
Namun saat ini komitmen tersebut baru berhasil tercapai di angka 11,5 persen di tahun 2020, di mana angka ini berada di bawah target semula, yaitu 13 persen. Pemerintah masih harus terus menggenjot pencapaian bauran energi lebih baik lagi mengingat tersisa empat tahun untuk target di 2025.
Berjalannya mandat pemerintah Filipina untuk implementasi bioetanol selama 2009 sampai 2016 telah memberikan dampak positif seperti pengurangan emisi karbon sebesar 10 metrik ton atau sekitar 55,5 persen lebih rendah dibanding emisi dari bensin murni campuran MTBE penghematan forex sebesar 48 miliar peso Filipina, penghentian penggunaan MBTE pada bensin, dan terciptanya lapangan pekerja di pedesaan di sektor pertanian hingga 1,2 juta pekerja.
Baca Juga: Taliban Tidak Izinkan Evakuasi Warga Afghanistan
Di samping itu, studi dari Universitas Filipina Los Blanos tahun 2020 mengenai skenario implementasi bioetanol pada tahun 2020-2030, menyatakan bahwa skenario terbaik adalah pada implementasi E20-E untuk 2020 dengan menggunakan impor etanol yang lebih murah untuk melengkapi stok lokal.
Adapun beberapa manfaat yang didapat dari hasil studi tersebut, antara lain pengurangan 3.4 metrik ton gas emisi pada 2020 dan pengurangan 28,2 juta ton gas emisi untuk jangka waktu 2020-2030, penghematan forex sebesar 18 miliar peso Filipina, penciptaan lapangan pekerjaan di pedesaan dan juga perbaikan neraca perdagangan.
Sebagai informasi, berdasarkan Climate Transparency Report 2020 mengenai perkembangan upaya pengurangan emisi di negara G20, sektor transportasi di Indonesia menyumbang emisi karbon sebesar 27 persen. Pemerintah juga menargetkan pencapaian bauran energi baru dan terbarukan (Energy Mix) di Indonesia sebesar 23 persen hingga 2025.
Namun saat ini komitmen tersebut baru berhasil tercapai di angka 11,5 persen di tahun 2020, di mana angka ini berada di bawah target semula, yaitu 13 persen. Pemerintah masih harus terus menggenjot pencapaian bauran energi lebih baik lagi mengingat tersisa empat tahun untuk target di 2025.
(nng)
Lihat Juga :