Kenaikan Cukai Tidak Efektif Tekan Konsumsi Rokok
Jum'at, 10 September 2021 - 17:05 WIB
loading...
A
A
A
"Hal ini rokok setiap hari 24,3% tidak mengalami perubahan 24,3%. Sementara perokok kadang-kadang, terdapat penurunan proporsi dari 5% pada 2013 menjadi 4,6% pada 2018," kata Joko Budi.
Baca Juga: Penolakan Kenaikan Cukai Tembakau Semakin Meluas
Joko menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut semakin memperkuat argumen bahwa kenaikan harga rokok tidak efektif menurunkan angka prevalensi merokok karena kenaikan harga rokok bukanlah faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan berhenti merokok. Hal ini juga menunjukkan bahwa harga bukan merupakan faktor penyebab seseorang tetap merokok dan harga juga bukan menjadi faktor penyebab seseorang berhenti merokok.
"Kenaikan harga rokok akan menyebabkan perokok mencari alternatif rokok dengan harga yang lebih murah dan terjangkau, salah satu alternatifnya adalah rokok ilegal," tegas Joko Budi.
Oleh karena itu, perlu jalan lain dari pemerintah dalam menekan prevelansi merokok, yaitu dengan optimalisasi program penyuluhan/sosialisasi di tingkat desa melalui Posyandu, PKK, orgasisasi sosial kemasyarakatan, dan lingkungan pendidikan tentang dampak mengkonsumsi produk IHT terhadap kesehatan
Baca Juga: Penolakan Kenaikan Cukai Tembakau Semakin Meluas
Joko menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut semakin memperkuat argumen bahwa kenaikan harga rokok tidak efektif menurunkan angka prevalensi merokok karena kenaikan harga rokok bukanlah faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan berhenti merokok. Hal ini juga menunjukkan bahwa harga bukan merupakan faktor penyebab seseorang tetap merokok dan harga juga bukan menjadi faktor penyebab seseorang berhenti merokok.
"Kenaikan harga rokok akan menyebabkan perokok mencari alternatif rokok dengan harga yang lebih murah dan terjangkau, salah satu alternatifnya adalah rokok ilegal," tegas Joko Budi.
Oleh karena itu, perlu jalan lain dari pemerintah dalam menekan prevelansi merokok, yaitu dengan optimalisasi program penyuluhan/sosialisasi di tingkat desa melalui Posyandu, PKK, orgasisasi sosial kemasyarakatan, dan lingkungan pendidikan tentang dampak mengkonsumsi produk IHT terhadap kesehatan
(nng)
Lihat Juga :