Studi: Negara Berkembang Kena Jebakan Utang Rp5.390 Triliun ke China
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Ini Risiko Jika Anda Mengirim Foto dan Video Rahasia lewat WhatsApp
"Utang ini secara sistematis tidak dilaporkan ke Sistem Pelaporan Debitur (DRS) Bank Dunia karena, dalam banyak kasus, lembaga pemerintah pusat di negara berpenghasilan rendah dan menengah bukan peminjam utama yang bertanggung jawab untuk pembayaran kembali," kata laporan itu.
"Kami memperkirakan bahwa rata-rata pemerintah tidak melaporkan kewajiban pembayaran aktual dan potensial ke China dengan jumlah yang setara dengan 5,8% dari PDB-nya," tambah laporan tersebut. AidData menilai bahwa pengelolaan utang tersembunyi ini telah menjadi "tantangan besar" bagi banyak negara yang terkena dampak.
"Masalah 'utang tersembunyi' bukanlah tentang pemerintah yang mengetahui bahwa mereka perlu membayar utang yang tidak diungkapkan (dengan nilai moneter yang diketahui) ke China daripada tentang pemerintah yang tidak mengetahui nilai moneter dari utang ke China yang mungkin atau tidak, harus mereka bayar dengan layanan di masa depan," tambah peneliti.
"Utang ini secara sistematis tidak dilaporkan ke Sistem Pelaporan Debitur (DRS) Bank Dunia karena, dalam banyak kasus, lembaga pemerintah pusat di negara berpenghasilan rendah dan menengah bukan peminjam utama yang bertanggung jawab untuk pembayaran kembali," kata laporan itu.
"Kami memperkirakan bahwa rata-rata pemerintah tidak melaporkan kewajiban pembayaran aktual dan potensial ke China dengan jumlah yang setara dengan 5,8% dari PDB-nya," tambah laporan tersebut. AidData menilai bahwa pengelolaan utang tersembunyi ini telah menjadi "tantangan besar" bagi banyak negara yang terkena dampak.
"Masalah 'utang tersembunyi' bukanlah tentang pemerintah yang mengetahui bahwa mereka perlu membayar utang yang tidak diungkapkan (dengan nilai moneter yang diketahui) ke China daripada tentang pemerintah yang tidak mengetahui nilai moneter dari utang ke China yang mungkin atau tidak, harus mereka bayar dengan layanan di masa depan," tambah peneliti.
(fai)
Lihat Juga :