Gas Masih Penting dalam Transisi Energi, Ini Alasannya
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 14:41 WIB
loading...
Gas masih memegang peranan penting dalam peralihan transisi dari energi fosil ke energi terbarukan. FOTO/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Gas masih memegang peranan penting dalam peralihan transisi dari energi fosil ke energi terbarukan lantaran emisi karbon masih relatif sedikit dibandingkan minyak. Sumber energi bersih ini akan berkembang terutama di seluruh Asia Pasifik.
"Peran gas alam dalam transisi energi menjadi lebih penting karena sifat gas yang mudah ditransportasikan dan disimpan. Dan yang terpenting adalah faktor emisi karbonnya. Sumber energi bersih ini akan berkembang terutama di Asia Pasifik, termasuk Indonesia," ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dikutip dari laman resmi Ditjen Migas, Jumat (8/10/2021).
Baca Juga: Capai Target Bebas Karbon 2060, ESDM Susun Roadmap Transisi Energi
Tutuka menegaskan, Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dan hingga 41% dengan dukungan internasional termasuk teknologi dan keuangan. Sektor energi berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314 juta ton CO2e menjadi 398 juta ton CO2e pada tahun 2030 melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih. Karena itulah, peran gas sebagai energi transisi sangat penting.
Sejak pertama kali diproduksikan tahun 1965, kebutuhan gas bumi untuk rumah tangga di Indonesia terus meningkat. Sebelumnya, gas lebih banyak digunakan untuk tujuan ekspor. Saat ini, lebih dari 60% produksi gas Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam Rencana Umum Energi Nasional, gas bumi ditargetkan mencapai porsi 24% dalam bauran energi nasional tahun 2050. "Cadangan Gas Indonesia antara lain menjadi salah satu faktor penentu target tersebut," jelas Tutuka.
"Peran gas alam dalam transisi energi menjadi lebih penting karena sifat gas yang mudah ditransportasikan dan disimpan. Dan yang terpenting adalah faktor emisi karbonnya. Sumber energi bersih ini akan berkembang terutama di Asia Pasifik, termasuk Indonesia," ungkap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dikutip dari laman resmi Ditjen Migas, Jumat (8/10/2021).
Baca Juga: Capai Target Bebas Karbon 2060, ESDM Susun Roadmap Transisi Energi
Tutuka menegaskan, Indonesia telah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dan hingga 41% dengan dukungan internasional termasuk teknologi dan keuangan. Sektor energi berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314 juta ton CO2e menjadi 398 juta ton CO2e pada tahun 2030 melalui pengembangan energi terbarukan, penerapan konservasi energi, serta penerapan teknologi energi bersih. Karena itulah, peran gas sebagai energi transisi sangat penting.
Sejak pertama kali diproduksikan tahun 1965, kebutuhan gas bumi untuk rumah tangga di Indonesia terus meningkat. Sebelumnya, gas lebih banyak digunakan untuk tujuan ekspor. Saat ini, lebih dari 60% produksi gas Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dalam Rencana Umum Energi Nasional, gas bumi ditargetkan mencapai porsi 24% dalam bauran energi nasional tahun 2050. "Cadangan Gas Indonesia antara lain menjadi salah satu faktor penentu target tersebut," jelas Tutuka.
Lihat Juga :