Kepastian Tarif Cukai Dibutuhkan Demi Menjaga Industri Hasil Tembakau

Kamis, 21 Oktober 2021 - 20:23 WIB
loading...
Kepastian Tarif Cukai...
Kebijakan cukai yang berubah setiap tahun berpotensi menimbulkan ketidakpastian dan mengancam keberlangsungan IHT. Hal ini berdampak pada sektor hulu hilir. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pengamat hukum tata negara UIN Kalijaga, Yogyakarta, Gugun el Guyanie berpendapat di tengah strategisnya peran industri hasil tembakau (IHT) , selalu dihadapkan pada polemik yang berkepanjangan. Menurutnya dikhawatirkan, kebijakan cukai berpotensi menimbulkan ketidakpastian dan mengancam keberlangsungan IHT. Hal ini berdampak pada sektor hulu hilir.

"Besarnya potensi kontribusi cukai hasil tembakau (CHT) menyebabkan kebijakan cukai semakin eksesif. Terlihat CHT justru lebih berorientasi pencapaian target penerimaan, daripada pengendalian atau pembatasan konsumsi rokok ," tegas Gugun el Guyani di Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Baca Juga: Presdir Sampoerna Bersuara: Kondisi Industri Hasil Tembakau Masih Sangat Rentan

Demikian halnya dengan desakan kebijakan cukai hampir setiap tahun lewat instrumen Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Gelombang penolakan kenaikan cukai kerap dilakukan oleh para stakeholders pertembakauan. Mulai dari petani tembakau, petani cengkeh, serikat pekerja, akademisi, organisasi masyarakat sipil, termasuk pelaku industri hasil tembakau nasional.

"Sayangnya, suara penolakan kenaikan cukai oleh mereka diabaikan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan RI," ujarnya.

Menurut Gugun, pengaturan cukai menunjukkan bahwa Undang Undang Cukai ditafsirkan secara leluasa oleh rezim kementerian keuangan melalui PMK. "Idealnya ada Peraturan Pemerintah (PP) yang menjadi peraturan pelaksana dari UU Cukai, agar kebijakan cukai tidak dimonopoli oleh rezim Kementerian Keuangan," tegas Gugun.

Dikatakan Gugun, berbicara industri hasil tembakau (IHT), ada domain Kementerian Pertanian, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, Kemenko Perekonomian, Kementerian Keungan, Kementerian Kesehatan, dan masih banyak lagi.

Sehingga, lanjut Gugun, harus melibatkan kementeria/lembaga terkait untuk melakukan harmonisasi pembuatan kebijakan. "Namun faktanya, politik hukumnya sektoral, dikendalikan oleh Kementerian Keuangan, dan rezim kesehatan yang sangat anti rokok!," cetus Gugun.

Gugun juga menyoroti komitmen pemerintah untuk membuat roadmap industri hasil tembakau. Sebab menurutnya, akar masalahnya adalah tiadanya roadmap yang tegas mengenai keberadaan IHT nasional.

Karena itu, sambung Gugun, penyusunan roadmap IHT yang komprehensif dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, pendapatan negara, tenaga kerja, dan pertanian mendesak untuk segera dilakukan oleh pemerintah.

"Kepastian tarif dan kebijakan CHT sangat diperlukan mengingat rantai produksi-distribusi usaha yang melibatkan banyak pihak dari petani, pabrik, buruh, distribusi, logistik, hingga pengecer warung," katanya.

Baca Juga: Ironis! Industri Hasil Tembakau Bukannya Dikasih Ruang Tapi Terus Dikebiri

Oleh sebab itu, para stakeholders di sektor IHT perlu duduk bersama untuk menyelaraskan pemikiran dengan mengutamakan prinsip partisipatif, terbuka, dan holistik agar terciptanya kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) yang lebih deliberatif, inklusif, dan mengedepankan persaingan usaha yang sehat.

"IHT merupakan industri strategis nasional yang memiliki keterkaitan sektor yang luas mulai hulu hingga hilir. IHT memiliki kontribusi yang sangat besar dan berdampak luas baik secara sosial, ekonomi, politik, maupun budaya terhadap pembangunan bangsa selama ini," tukasnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Bumerang Bagi Penerimaan...
Bumerang Bagi Penerimaan Negara, Usulan Kenaikan Batas Produksi Rokok Tuai Kritik
Lindungi Generasi Muda,...
Lindungi Generasi Muda, Sejumlah Elemen Dukung Standardisasi Kemasan Rokok
Usulan Bikin Rokok Murah...
Usulan Bikin Rokok Murah Khusus Warga Miskin Disebut Sesat Nalar
Bea Cukai Gagalkan 8,9...
Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Rp8,6 Miliar
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Soal Aturan Baru Kemenkes,...
Soal Aturan Baru Kemenkes, Bupati Bondowoso Komitmen Lindungi Petani Tembakau
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Antisipasi Ancaman PHK Massal di Industri Hasil Tembakau
Rekomendasi
Nanik S Deyang Bakal...
Nanik S Deyang Bakal Diperiksa di Kasus Dugaan Korupsi MBG? Kejagung: Iya Berpotensi
SPI Jadi yang Pertama...
SPI Jadi yang Pertama Beri Naskah Analisis RUU Advokat ke Pemerintah
Terima Rp20 juta, Muhammad...
Terima Rp20 juta, Muhammad Abdimaludin Dinonaktifkan dari Ketua BEM FH Universitas Bung Karno
Berita Terkini
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Potensi Sensus Ekonomi...
Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
Sah! Potongan Komisi...
Sah! Potongan Komisi Ojol Jadi 8% per Juli 2026, Aplikator Sudah Sepakat
Prudential Syariah Raih...
Prudential Syariah Raih Penghargaan Brand of the Year 2026
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Infografis
Hasil Drawing Grup Piala...
Hasil Drawing Grup Piala Dunia 2026: Brasil dan Prancis Dihadang Kuda Hitam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved