Ironis! Penghasil Sawit Terbesar, Tapi Harga Minyak Goreng Mahal di RI
Sabtu, 20 November 2021 - 22:20 WIB
loading...
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) membeberkan, penyebab kenapa harga minyak goreng terpantau masih mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak goreng terpantau masih mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan harga minyak goreng dipicu oleh naiknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Sepanjang tahun 2021, harga rata-rata CPO di atas USD1.000 per metrik ton, bahkan mencapai puncak tertinggi yaitu USD1.390 per metrik ton pada Oktober lalu.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Mahal, Ini Penjelasan Mendag Lutfi
Meski Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, namun harga ditentukan oleh mekanisme pasar dunia. Apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga dalam negeri juga akan ikut naik.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, kenaikan harga CPO ini turut dipengaruhi oleh produksi CPO yang cenderung flat di tahun ini. Bahkan produksi komoditas minyak nabati lainnya juga tidak sebagus yang diharapkan.
Sementara dari sisi permintaan, beberapa negara utama tujuan ekspor mulai menunjukkan pemulihan ekonomi. Akibatnya, permintaan naik tajam sedangkan produksi tidak dapat mengikuti kecepatan tersebut.
"China sangat cepat recovery sehingga banyak demand terserap oleh China. Sementara pasca pandemi kelihatannya belum siap kembali normal sehingga terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand. Banyak harga-harga naik, tidak hanya CPO. Tapi juga pupuk naik, baja naik, jadi masih belum seimbang," ujar Joko dalam keterangannya.
Sepanjang tahun 2021, harga rata-rata CPO di atas USD1.000 per metrik ton, bahkan mencapai puncak tertinggi yaitu USD1.390 per metrik ton pada Oktober lalu.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Mahal, Ini Penjelasan Mendag Lutfi
Meski Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, namun harga ditentukan oleh mekanisme pasar dunia. Apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga dalam negeri juga akan ikut naik.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, kenaikan harga CPO ini turut dipengaruhi oleh produksi CPO yang cenderung flat di tahun ini. Bahkan produksi komoditas minyak nabati lainnya juga tidak sebagus yang diharapkan.
Sementara dari sisi permintaan, beberapa negara utama tujuan ekspor mulai menunjukkan pemulihan ekonomi. Akibatnya, permintaan naik tajam sedangkan produksi tidak dapat mengikuti kecepatan tersebut.
"China sangat cepat recovery sehingga banyak demand terserap oleh China. Sementara pasca pandemi kelihatannya belum siap kembali normal sehingga terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand. Banyak harga-harga naik, tidak hanya CPO. Tapi juga pupuk naik, baja naik, jadi masih belum seimbang," ujar Joko dalam keterangannya.
Lihat Juga :