JCB 2021 Usai, Ini Rekomendasi IATMI untuk Peningkatan Produksi Migas
Jum'at, 26 November 2021 - 10:25 WIB
loading...
Joint Convention Bandung (JCB) 2021, Kamis (25/11/2021) menelurkan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah dalam rangka peningkatan produksi migas nasional. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia ( IATMI ) menutup Joint Convention Bandung (JCB) 2021, Kamis (25/11), dengan memberikan rekomendasi dalam rangka peningkatan dan percepatan produksi migas kepada pemerintah. Sejumlah rekomendasi diberikan untuk mendukung upaya meningkatkan produksi minyak 1 juta barel per hari (bph) dan gas 12 BSCFD pada 2030 untuk mendorong laju perekonomian.
Rekomendasi yang diberikan pertama adalah aspek efisiensi biaya, baik dari sisi operasi dan biaya pengembangan proyek. Dalam hal ini menjadi sangat penting untuk menerapkan teknologi digital, implementasi metode perbaikan proses bisnis, seperti berbagi pengetrahuan serta benchmarking antarperusahaan.
"Penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan tingkat pengurasan lapangan seperti injeksi air, stimulasi produksi dan EOR akan membantu upaya peningkatan produksi. Serta dukungan dari pemerintah dalam bentuk insentif baik fiskal maupun non fiskal," ungkap Komda&Steering Commitee IATMI Henricus Herwin dalam siaran pers yang diterima, Jumat (26/11/2021).
Baca Juga: Investasi Sektor ESDM Diprediksi Hanya Capai 81% dari Target 2021
IATMI merupakan salah satu dari empat asosiasi profesi di lingkungan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) penyelenggara JCB 2021. Selain IATMI, tiga asosiasi lainnya adalah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI).
Menurut Henricus, SKK Migas telah menyampaikan keterbukaan dan kesiapan dalam mendorong pencapaian target produksi di 2030, seperti memberikan kebebasan kepada KKKS untuk memilih skema kontrak antara PSC cost recovery atau PSC gross split. "Serta, terus berupaya melakukan perbaikan untuk mempermudah perizinan," imbuhnya.
Rekomendasi yang diberikan pertama adalah aspek efisiensi biaya, baik dari sisi operasi dan biaya pengembangan proyek. Dalam hal ini menjadi sangat penting untuk menerapkan teknologi digital, implementasi metode perbaikan proses bisnis, seperti berbagi pengetrahuan serta benchmarking antarperusahaan.
"Penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan tingkat pengurasan lapangan seperti injeksi air, stimulasi produksi dan EOR akan membantu upaya peningkatan produksi. Serta dukungan dari pemerintah dalam bentuk insentif baik fiskal maupun non fiskal," ungkap Komda&Steering Commitee IATMI Henricus Herwin dalam siaran pers yang diterima, Jumat (26/11/2021).
Baca Juga: Investasi Sektor ESDM Diprediksi Hanya Capai 81% dari Target 2021
IATMI merupakan salah satu dari empat asosiasi profesi di lingkungan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) penyelenggara JCB 2021. Selain IATMI, tiga asosiasi lainnya adalah Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI) dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI).
Menurut Henricus, SKK Migas telah menyampaikan keterbukaan dan kesiapan dalam mendorong pencapaian target produksi di 2030, seperti memberikan kebebasan kepada KKKS untuk memilih skema kontrak antara PSC cost recovery atau PSC gross split. "Serta, terus berupaya melakukan perbaikan untuk mempermudah perizinan," imbuhnya.
Lihat Juga :