ICP November Turun USD1,67 Jadi USD80,13 per Barel
Kamis, 09 Desember 2021 - 19:26 WIB
loading...
A
A
A
Faktor lainnya adalah kembali melonjaknya kasus infeksi Covid-19 di Eropa, dengan beberapa negara seperti Austria, Belanda dan Jerman kembali memutuskan untuk melakukan lockdown. Hal itu menyebabkan kekhawatiran terjadinya penurunan aktivitas ekonomi dan penurunan permintaan minyak mentah di kawasan Eropa.
"Selain itu, terdapat kekhawatiran dengan munculnya varian virus Covid-19 baru, Omicron, di kawasan Afrika Selatan," demikian dikutip dari ringkasan tersebut.
IEA (International Energy Agency) melalui laporan bulan November 2021, menyampaikan prediksi bahwa akan terjadi kelebihan pasok di tahun 2022. Diperkirakan bahwa suplai minyak mentah dari negara-negara Non-OPEC akan meningkat sebesar 2 juta BOPD dibandingkan dengan akhir tahun 2021.
"Prediksi bahwa permintaan minyak mentah global tidak akan mencapai level sebelum pandemi sampai dengan akhir tahun 2022, dengan perkiraan permintaan minyak mentah di tahun 2022 hanya akan meningkat sebesar 1,4 juta BOPD dibandingkan dengan akhir tahun 2021," ungkap ringkasan tersebut.
Baca Juga: Bela Ukraina, AS Didesak Mengebom Nuklir Rusia
"Selain itu, terdapat kekhawatiran dengan munculnya varian virus Covid-19 baru, Omicron, di kawasan Afrika Selatan," demikian dikutip dari ringkasan tersebut.
IEA (International Energy Agency) melalui laporan bulan November 2021, menyampaikan prediksi bahwa akan terjadi kelebihan pasok di tahun 2022. Diperkirakan bahwa suplai minyak mentah dari negara-negara Non-OPEC akan meningkat sebesar 2 juta BOPD dibandingkan dengan akhir tahun 2021.
"Prediksi bahwa permintaan minyak mentah global tidak akan mencapai level sebelum pandemi sampai dengan akhir tahun 2022, dengan perkiraan permintaan minyak mentah di tahun 2022 hanya akan meningkat sebesar 1,4 juta BOPD dibandingkan dengan akhir tahun 2021," ungkap ringkasan tersebut.
Baca Juga: Bela Ukraina, AS Didesak Mengebom Nuklir Rusia
Lihat Juga :