Ada 'Nenek Sihir' dalam Anggaran Penanganan Covid-19
Senin, 08 Juni 2020 - 21:33 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, kata Uchok, penambahan APBN dari alokasi anggaran untuk covid-19 tidak ada jaminan akan berhenti pada angka Rp.667,1 Triliun. Menurut dia, sepertinya anggaran Covid 19 terus menerus melaju mengalami kenaikan sesuai selera menteri keuangan sendiri. Bisa bisa saja, dalam hitungan minggu atau bulan tiba-tiba ada lagi kenaikan anggaran tersebut.
Menurutnya, dari kenaikan angka-angka tersebut, pihak kementerian keuangan memang tidak pernah menjelaskan secara gamblang terbuka ke publik. Sebetulnya apa yang menjadi penyebab ukuran kenaikan tersebut. Tetapi yang jelas, kenaikan anggaran covid-19 sedang memperlihatkan bahwa menteri keuangan tidak punya perencanaan yang baik untuk menanggulangi bencana wabah covid-19.
Lebih lanjut Uchok mengatakan, seharusnya seorang SMI, yang katanya menyandang gelar menteri keuangan terbaik dunia punya perencanaan yang baik. Sudah andal bisa menghitung berapa triliun yang harus dialokasikan untuk kebutuhan dan kepentingan untuk memerangi Covid 19. Dengan bisa menghitung kebutuhan alokasi anggaran tersebut, berarti anggaran covid 19 tidak usah tiap bulan mengalami kenaikan.
Selain itu, katanya, bila melihat anggaran covid-19 pada postur baru APBN 2020 akan terlihat kacau balau. "Karena anggaran Covid 19 seperti "gado gado" alias dicampur campur dengan anggaran rutin yang lain. Sehingga tidak bisa melihat mana anggaran untuk covid 19, dan mana anggaran rutin lembaga negara lainnya," ucap dia.
Ia menganggap, kemungkinan dengan cara memakai anggaran covid-19 seperti Gado-gado merupakan sebuah taktik untuk "mengibuli" alias menghilangkan jejak dari pantauan masyarakat dan aparat hukum. Agar juga aparat hukum kesulitan mencari korupsi anggaran covid-19 di antara anggaran dan program program pemerintah yang lain.
"Jadi dari penjelasan di atas, sudah bisa tergambarkan buruknya kapasitas SMI dalam membuat postur APBN sesuai Perpres No.54/2020. Dari APBN kacau balau hingga Minim rencana atau sama sekali tidak bisa menghitung berapa alokasi anggaran untuk mengantisipasi dampak ekonomi akibat covid 19," ujarnya.
Menurutnya, dari kenaikan angka-angka tersebut, pihak kementerian keuangan memang tidak pernah menjelaskan secara gamblang terbuka ke publik. Sebetulnya apa yang menjadi penyebab ukuran kenaikan tersebut. Tetapi yang jelas, kenaikan anggaran covid-19 sedang memperlihatkan bahwa menteri keuangan tidak punya perencanaan yang baik untuk menanggulangi bencana wabah covid-19.
Lebih lanjut Uchok mengatakan, seharusnya seorang SMI, yang katanya menyandang gelar menteri keuangan terbaik dunia punya perencanaan yang baik. Sudah andal bisa menghitung berapa triliun yang harus dialokasikan untuk kebutuhan dan kepentingan untuk memerangi Covid 19. Dengan bisa menghitung kebutuhan alokasi anggaran tersebut, berarti anggaran covid 19 tidak usah tiap bulan mengalami kenaikan.
Selain itu, katanya, bila melihat anggaran covid-19 pada postur baru APBN 2020 akan terlihat kacau balau. "Karena anggaran Covid 19 seperti "gado gado" alias dicampur campur dengan anggaran rutin yang lain. Sehingga tidak bisa melihat mana anggaran untuk covid 19, dan mana anggaran rutin lembaga negara lainnya," ucap dia.
Ia menganggap, kemungkinan dengan cara memakai anggaran covid-19 seperti Gado-gado merupakan sebuah taktik untuk "mengibuli" alias menghilangkan jejak dari pantauan masyarakat dan aparat hukum. Agar juga aparat hukum kesulitan mencari korupsi anggaran covid-19 di antara anggaran dan program program pemerintah yang lain.
"Jadi dari penjelasan di atas, sudah bisa tergambarkan buruknya kapasitas SMI dalam membuat postur APBN sesuai Perpres No.54/2020. Dari APBN kacau balau hingga Minim rencana atau sama sekali tidak bisa menghitung berapa alokasi anggaran untuk mengantisipasi dampak ekonomi akibat covid 19," ujarnya.
Lihat Juga :