Kontribusi Sektor Perikanan ke PDRB Sulsel Capai 10,10 Persen
Jum'at, 07 Januari 2022 - 18:55 WIB
loading...
Sektor perikanan berkontribusi 10% dalam PDRB Sulsel di tahun 2021. Foto: SINDOnews/Maman Sukirman
A
A
A
MAKASSAR - Kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatan (Sulsel) mencapai 10,10 persen dengan nilai Rp40,59 triliun hingga Triwulan III 2021.
Capaian tersebut telah melampaui target 2021 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel Tahun 2023. Diketahui, masing-masing target yang ditetapkan yaitu setidaknya berkontribusi 4,6 persen (2021) dan 5,6 persen (2023).
Baca juga:Usai Merger, Perindo Perkuat Bisnis Pengolahan dan Perdagangan Ikan
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulsel, Sulkaf S Latief mengungkapkan sektor perikanan Sulsel memang sangat potensial. Hal itu didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang ada.
Sehingga menurut Sulkaf, yang menjadi fokus DKP Sulsel ke depan adalah meningkatkan nilai dari sektor perikanan. Di mana tidak hanya meningkat dari sisi produksi, tapi juga secara nilai bertambah. Hal itu tentunya akan turut meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor perikanan di Sulsel.
"Ke depan itu yang paling penting adalah bagaimana penciptaan nilai tambah atau value added," ungkapnya kepada SINDOnews, Jumat (7/1/2022).
Hal itu, kata Sulkaf, sesuai dengan instruksi Gubernur agar hasil kelautan dan perikanan di Sulsel diolah untuk meningkatkan nilainya. Sebagai contoh, rumput laut Sulsel yang kini sudah semi olahan.
Baca juga:KKP Ungkap Kiat Produk Perikanan RI Bisa Diterima di 171 Negara
Lalu sebagai produsen ikan bandeng terbesar di Indonesia, Sulsel memanfaatkan potensi tersebut dengan menciptakan ikan bandeng tanpa duri. "Kan itu tentu nilainya lebih tinggi. Jadi ke depan itu yang akan didorong," tambahnya.
Adapun upaya yang akan dilakukan untuk mendorong penciptaan nilai tambah hasil perikanan di Sulsel yaitu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi hingga pengusaha.
Produksi perikanan Sulsel mencapai 3,4 juta ton dengan nilai Rp19,93 triliun hingga posisi September 2021. Capaian tersebut sudah berada pada posisi 78,31 persen dari target 2021 sebesar 4,3 juta ton.
Jika dilihat dari jenisnya, produksi perikanan di Sulsel masih didominasi budi daya, yaitu mencapai 3,89 juta ton dengan nilai Rp14,47 triliun, sedangkan perikanan tangkap sebesar 396 ribu ton dengan nilai Rp8,85 triliun.
Baca juga:Ragam Riset dan Inovasi KKP di 2021, Ada Plastik Rumput Laut Merah
Sulkaf memprediksi, sektor perikanan di Sulsel pada tahun 2022 akan melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu berdasarkan pengalaman selama hampir dua tahun Tanah Air dilanda pandemi Covid-19, di mana perikanan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih.
"Kalau kita lihat perikanan awal Covid-19 memang sempat jatuh, tapi yang paling cepat recovery kan kita. Artinya ke depan sektor perikanan akan tetap tumbuh, baik penangkapan maupun budi daya," pungkasnya.
Capaian tersebut telah melampaui target 2021 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel Tahun 2023. Diketahui, masing-masing target yang ditetapkan yaitu setidaknya berkontribusi 4,6 persen (2021) dan 5,6 persen (2023).
Baca juga:Usai Merger, Perindo Perkuat Bisnis Pengolahan dan Perdagangan Ikan
Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulsel, Sulkaf S Latief mengungkapkan sektor perikanan Sulsel memang sangat potensial. Hal itu didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang ada.
Sehingga menurut Sulkaf, yang menjadi fokus DKP Sulsel ke depan adalah meningkatkan nilai dari sektor perikanan. Di mana tidak hanya meningkat dari sisi produksi, tapi juga secara nilai bertambah. Hal itu tentunya akan turut meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor perikanan di Sulsel.
"Ke depan itu yang paling penting adalah bagaimana penciptaan nilai tambah atau value added," ungkapnya kepada SINDOnews, Jumat (7/1/2022).
Hal itu, kata Sulkaf, sesuai dengan instruksi Gubernur agar hasil kelautan dan perikanan di Sulsel diolah untuk meningkatkan nilainya. Sebagai contoh, rumput laut Sulsel yang kini sudah semi olahan.
Baca juga:KKP Ungkap Kiat Produk Perikanan RI Bisa Diterima di 171 Negara
Lalu sebagai produsen ikan bandeng terbesar di Indonesia, Sulsel memanfaatkan potensi tersebut dengan menciptakan ikan bandeng tanpa duri. "Kan itu tentu nilainya lebih tinggi. Jadi ke depan itu yang akan didorong," tambahnya.
Adapun upaya yang akan dilakukan untuk mendorong penciptaan nilai tambah hasil perikanan di Sulsel yaitu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi hingga pengusaha.
Produksi perikanan Sulsel mencapai 3,4 juta ton dengan nilai Rp19,93 triliun hingga posisi September 2021. Capaian tersebut sudah berada pada posisi 78,31 persen dari target 2021 sebesar 4,3 juta ton.
Jika dilihat dari jenisnya, produksi perikanan di Sulsel masih didominasi budi daya, yaitu mencapai 3,89 juta ton dengan nilai Rp14,47 triliun, sedangkan perikanan tangkap sebesar 396 ribu ton dengan nilai Rp8,85 triliun.
Baca juga:Ragam Riset dan Inovasi KKP di 2021, Ada Plastik Rumput Laut Merah
Sulkaf memprediksi, sektor perikanan di Sulsel pada tahun 2022 akan melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu berdasarkan pengalaman selama hampir dua tahun Tanah Air dilanda pandemi Covid-19, di mana perikanan menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih.
"Kalau kita lihat perikanan awal Covid-19 memang sempat jatuh, tapi yang paling cepat recovery kan kita. Artinya ke depan sektor perikanan akan tetap tumbuh, baik penangkapan maupun budi daya," pungkasnya.
(luq)
Lihat Juga :