Ekonomi Ditarget Tumbuh 5,2% di 2022, Pemerintah Berjibaku Basmi Omicron

Selasa, 25 Januari 2022 - 11:21 WIB
loading...
Ekonomi Ditarget Tumbuh 5,2% di 2022, Pemerintah Berjibaku Basmi Omicron
Menko bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto/Dok MPI/Aldhi Chandra
A A A
JAKARTA - Keberhasilan dalam menangani pandemi khususnya varian Omicron yang tengah merebak saat ini akan berpengaruh terhadap upaya pencapaian target pertumbuhan ekonomi di 2022.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah terus melakukan upaya perbaikan dan peningkatan efektivitas dalam penanganan Covid-19 melalui strategi dari hulu hingga hilir.

Baca juga: NH Tegaskan Pencapresan Airlangga Sudah Final di Golkar

Tercatat kasus aktif di Indonesia terus dijaga dengan tingkat kesembuhan 96,4%. Meski demikian, pemerintah terus waspada dan menekankan kedisiplinan penerapan protokol kesehatan (prokes) mengingat adanya eskalasi kasus varian Omicron yang secara global telah melanda berbagai negara di dunia.

"Pengendalian pandemi yang efektif tentunya terbukti menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi. Pandemi yang terkendali mendorong confidence atau keyakinan dan mobilitas penduduk yang membuat ekonomi tumbuh di kuartal III/2021 lalu sebesar 3,51% dan kuartal IV diproyeksikan tumbuh antara 4,5-5%," papar Airlangga dalam Indonesia Economic Outlook 2022 yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) secara hybrid, Selasa (25/1/2022).

Baca juga: Menko Luhut: Distribusi Vaksin Belum Merata Bikin Varian Baru Delta hingga Omicron Muncul



Airlangga melanjutkan, tahun ini pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,2% dan penanganan Covid-19 serta pemulihan ekonomi akan menentukan pencapaian target tersebut.

"Oleh karenanya, kerja sama antar stakeholders sangat diperlukan dan ini menjadi kunci bagi pemulihan dan mendorong pembangunan ke depan," tandasnya.

Airlangga menambahkan, perekonomian global masih menghadapi berbagai tantangan seperti varian-varian baru Covid-19 dan distribusi vaksin global yang belum merata.



Di samping itu, pelemahan ekonomi akibat kebijakan terutama di China yang mendorong pertumbuhan tinggi ke arah pemerataan, terjadi krisis energi, dan krisis properti Evergrande.

"Serta risiko yang mempengaruhi capital outflow seperti kenaikan suku bunga di AS (Amerika Serikat). Terkait dengan situasi-situasi tersebut, kita perlu merespon secara fleksibel dan adaptif," pungkasnya.
(ind)
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2284 seconds (10.55#12.26)