Sejumlah Perusahaan Dunia Tetap Bercokol di Rusia: Demi Kemanusiaan atau Cuan?
Jum'at, 11 Maret 2022 - 10:06 WIB
loading...
A
A
A
Masih ada perusahaan rokok asing lainnya yang bertahan di Rusia, yaitu Japan Tobacco. Perusahan ini memiliki 37% pangsa pasar Rusia dan 4.500 karyawan. Pembayaran pajaknya pada tahun 2020 menyumbang 1,4% dari anggaran negara Federasi Rusia. Sembari menanggok untung, Japan Tobacco berseloroh "berkomitmen penuh" untuk mematuhi sanksi nasional dan internasional.
British American Tobacco (BAT) yang memiliki 2.500 pekerja di 76 kantor di Rusia juga terus menjual rokok. Pihak BAT menyatakan selalu mematuhi peraturan dan undang-undang yang relevan di mana pun mereka beroperasi.
"Kami selaras dengan semua sanksi internasional. Kami terus memantau situasi dengan cermat seiring perkembangannya," kata seorang juru bicara kepada BBC.
Renault juga sami mawon. Perusahaan mobil yang bermarkas di Perancis ini memilih bertahan di Rusia dan tutup mulut ketika ditanyakan soal itu. Bagi Renault, Rusia adalah pasar yang legit karena menyumbang USD5,5 miliar atau 12% dari pendapatan. Pemerintah Prancis memiliki 15% saham di Renault dan merupakan investor terpenting dalam hak suara.
Unilever juga bertahan di Rusia. Raksasa barang-barang konsumen (consumer goods) asal Belanda ini memang telah menangguhkan semua impor dan ekspor produk ke dalam dan ke luar Rusia. Mereka juga telah menghentikan semua investasi, media, dan iklan baru di negara tersebut. Namun, Unilever menandaskan akan terus memasok makanan penting sehari-hari dan produk kebersihan yang dibuat di Rusia.
Baca juga:PDIP: 9 Fraksi DPR Sepakat Pemungutan Suara 14 Februari 2024, Tak Perlu Debat Lagi
Masih ada beberapa lagi perusahaan yang masih bercokol dan beroperasi di Rusia. Di antaranya Nestle, Grup Carlsberg (perusahaan bir).
Mereka semua bertahan di Rusia dengan alasannya masing-masing. Demi kemanusiaan atau mungkin juga hanya untuk cuan belaka. Entahlah!
British American Tobacco (BAT) yang memiliki 2.500 pekerja di 76 kantor di Rusia juga terus menjual rokok. Pihak BAT menyatakan selalu mematuhi peraturan dan undang-undang yang relevan di mana pun mereka beroperasi.
"Kami selaras dengan semua sanksi internasional. Kami terus memantau situasi dengan cermat seiring perkembangannya," kata seorang juru bicara kepada BBC.
Renault juga sami mawon. Perusahaan mobil yang bermarkas di Perancis ini memilih bertahan di Rusia dan tutup mulut ketika ditanyakan soal itu. Bagi Renault, Rusia adalah pasar yang legit karena menyumbang USD5,5 miliar atau 12% dari pendapatan. Pemerintah Prancis memiliki 15% saham di Renault dan merupakan investor terpenting dalam hak suara.
Unilever juga bertahan di Rusia. Raksasa barang-barang konsumen (consumer goods) asal Belanda ini memang telah menangguhkan semua impor dan ekspor produk ke dalam dan ke luar Rusia. Mereka juga telah menghentikan semua investasi, media, dan iklan baru di negara tersebut. Namun, Unilever menandaskan akan terus memasok makanan penting sehari-hari dan produk kebersihan yang dibuat di Rusia.
Baca juga:PDIP: 9 Fraksi DPR Sepakat Pemungutan Suara 14 Februari 2024, Tak Perlu Debat Lagi
Masih ada beberapa lagi perusahaan yang masih bercokol dan beroperasi di Rusia. Di antaranya Nestle, Grup Carlsberg (perusahaan bir).
Mereka semua bertahan di Rusia dengan alasannya masing-masing. Demi kemanusiaan atau mungkin juga hanya untuk cuan belaka. Entahlah!
(uka)
Lihat Juga :