Bos BJB Syariah Buka-bukaan Strategi Bank Digital
Kamis, 31 Maret 2022 - 18:27 WIB
loading...
A
A
A
Sayangnya, bank yang berhasil menembus total aset Rp10,36 triliun pada tahun lalu ini terkena one shock effect pada bottom line, yakni pajak tangguhan senilai Rp64,85 miliar. Akibatnya, laba bersih setelah pajak tergerus hingga tersisa Rp21,9 miliar. Meski tergerus pajak tangguhan, laba bersih tersebut masih meningkat cukup fantastis, naik 494% dibandingkan dengan 2020.
"Setelah pajak tangguhan kita pulihkan, kami akan kembali ke masuk jalur cepat dalam menghasilkan profit. Kami cukup optimistis, apalagi kondisi ekonomi semakin pulih. Kemampuan kami menghasilkan laba di 2021 menunjukkan fundamental bisnis kami sangat baik," ujar Indra.
Indra tidak sesumbar karena dari sisi topline, BJB Syariah meraup pendapatan setelah distribusi bagi hasil 2021 sebesar Rp463,16 miliar, meningkat 29,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Melesatnya topline dipengaruhi oleh penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp6,43 triliun, tumbuh 11,33% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp5,77 triliun.
Tidak hanya itu, BJB Syariah berhasil menekan biaya dana yang tercatat Rp257,5 miliar pada 2021, turun 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan biaya dana ini terjadi ketika DPK melesat 18,6% menjadi Rp7,88 triliun pada 2021 dibandingkan dengan 2020 yang tercatat Rp6,64 triliun.
Alhasil dengan pembiayaan yang meningkat dan penurunan biaya maka Net Imbalan BJB Syariah meningkat dari 5,14% pada 2020 menjadi 5,61% pada 2021. Kinerja yang kinclong masih ditambah kemampuan BJB Syariah menurunkan rasio pembiayaan bermasalah (net performing financing/NPF) bruto dari 5,28% menjadi 3,42%.
"Setelah pajak tangguhan kita pulihkan, kami akan kembali ke masuk jalur cepat dalam menghasilkan profit. Kami cukup optimistis, apalagi kondisi ekonomi semakin pulih. Kemampuan kami menghasilkan laba di 2021 menunjukkan fundamental bisnis kami sangat baik," ujar Indra.
Indra tidak sesumbar karena dari sisi topline, BJB Syariah meraup pendapatan setelah distribusi bagi hasil 2021 sebesar Rp463,16 miliar, meningkat 29,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Melesatnya topline dipengaruhi oleh penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp6,43 triliun, tumbuh 11,33% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp5,77 triliun.
Tidak hanya itu, BJB Syariah berhasil menekan biaya dana yang tercatat Rp257,5 miliar pada 2021, turun 17,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan biaya dana ini terjadi ketika DPK melesat 18,6% menjadi Rp7,88 triliun pada 2021 dibandingkan dengan 2020 yang tercatat Rp6,64 triliun.
Alhasil dengan pembiayaan yang meningkat dan penurunan biaya maka Net Imbalan BJB Syariah meningkat dari 5,14% pada 2020 menjadi 5,61% pada 2021. Kinerja yang kinclong masih ditambah kemampuan BJB Syariah menurunkan rasio pembiayaan bermasalah (net performing financing/NPF) bruto dari 5,28% menjadi 3,42%.
(nng)
Lihat Juga :