Digiasia Jadi Perusahaan FaaS Pertama di Indonesia

Senin, 11 April 2022 - 16:02 WIB
loading...
Digiasia Jadi Perusahaan FaaS Pertama di Indonesia
Digiasia Bios, memfokuskan layanan sebagai perusahaan fintech as a service (FaaS) pertama di Indonesia.
A A A
JAKARTA - Digiasia Bios, perusahaan yang didirikan pengusaha Alexander Rusli dan Prashant Gokarn sejak 2017, memfokuskan layanan sebagai perusahaanfintech as a service(FaaS) pertama di Indonesia. Itu artinya, layanan Digiasia Bios lebih luas, tak sekadarfintech peer to peer(P2P)lending.

Digiasia Bios serta seluruh produk dan layanannya beroperasi dengan memegang izin, lisensi serta bersertifikasi penuh dari Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk sertifikasi ISO27001, QRC Solution, sertifikasi PCI DSS, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Asosiasi Penyelenggara Pengiriman Uang Indonesia (APPUI), dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

(Baca juga:Kolaborasi Fintech Lending Sosialisasikan Industri Fintech di Kalangan Mahasiswa)

Melalui empat produk dan layananfintechyang dimiliki saat ini, yakni KasPro (digital payment), KreditPro (P2Plending), RemitPro (remittances/pengiriman uang) dan DigiBos (layanan keuangan digital/LKD), perusahaan terus berfokus dalam mengintegrasikan teknologi guna mendorong peningkatan daya saing pasar dan masyarakat Indonesia serta kemudahan beradaptasi dengan era digital.

“Selain sebagaiplatformyang bisa digunakan masyarakat secara umum, Digiasia Bios mendedikasikan diri sebagai perusahaan FaaS pertama di Indonesia. Kami memahami bahwa setiap bisnis dan lapisan masyarakat memiliki kebutuhan yang berbeda. Melalui produk dan layanan fintech yang kami sediakan, kami hadir untuk membantu dan mendukung transformasi keuangan perusahaan mitra dan pelanggan kami,” ujar Rully Hariwinata,chief marketing officerDigiasia Bios, Senin (11/4/2022).

(Baca juga:Tantangan Pertumbuhan Industri Fintech 2021)

Melalui integrasi yang dilakukan, dia menyatakan, mitra dan pelanggan Digiasia Bios akan semakin mudah beradaptasi dengan kemajuan era digital serta memperluas layanan digital dan cashless di pasar.

Dalam Laporan Annual Member Survey 2021 Aftech, tahun ini, sebanyak 25% lebih platform rintisan teknologi finansial (startup fintech) di Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Ini membuktikan bahwa proyeksi Digiasia Bios tepat dan semakin mendorong semangat Digiasia Bios untuk dapat terus mengakomodasikan kebutuhan masyarakat Indonesia dengan menghadirkan akses layanan fintech yang beragam dalam satu integrasi.

“Selain penggunaan langsung, produk layananfintechdari Digiasia Bios dapat disematkan dengan aplikasi dan ekosistem apapun, sehingga memungkinkan perusahaan mitra kami dapat dengan mudah memanfaatkan solusifintechuntuk mengoptimalkan proses pengelolaan keuangan, memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan mereka dan menyediakan layanan komersial dengan standar yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” jelas Rully.

(Baca juga:Merdeka dari Fintech Lending Ilegal)

Misi pemerataan digitalisasi keuangan di seluruh lapisan masyarakat, kata dia, telah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah guna membawa Indonesia memimpin ekonomi digital di Asia Tenggara. Digiasia Bios berkomitmen untuk terus menghadirkan pembaruan teknologi pada layanan produkfintechyang dimiliki dan mendukung realisasi dari misi tersebut.

LaporanAnnual Member Survey 2021Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mencatat, pertumbuhan produk teknologi finansial (fintech) di Indonesia menunjukkan tren positif hingga kuartal I/2022.

Hal ini tentunya tidak lepas dari dukungan pemerintah dan berbagai pihak yang terus gencar melakukan pemerataan literasi tentang digitalisasi keuangan. Imbasnya, pemahaman kebutuhan serta minat masyarakat di seluruh lapisan juga semakin berkembang. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 2021, akumulasi investasi di industrifintechnasional mencapai USD904 juta atau 23% dari total Asia Tenggara.
(dar)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2313 seconds (10.101#12.26)