DOW Kolaborasi Dukung Implementasi Ekonomi Sirkular di Semarang
Jum'at, 13 Mei 2022 - 13:25 WIB
loading...
Pengelolaan sampah melalui sirkular ekonomi meberikan manfaat ekonomi yang sangat besar. FOTO/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pengelolaan sampah melalui sirkular ekonomi meberikan manfaat ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan laporan National Plastic Action Partnership (NPAP) Indonesia, investasi sirkular ekonomi memberikan nilai manfaat mencapai USD10 miliar atau sekitar Rp144 triliun per tahun hingga 20 tahun ke depan.
Melalui potensi tersebut, pemerintah terus mendorong kolaborasi swasta dengan pemerintah daerah mengurai permasalahan sampah bermanfaat bagi ekonomi . Inisiatif kali ini dilakukan oleh perusahaan material science Dow bekerja sama dengan Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dengan membantu pengelolaan sampah sekaligus mempromosikan ekonomi sirkular di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Didukung penuh oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, inisiatif ini membantu program pemkot dalam mengatasi masalah sampah melalui sejumlah program pengelolaan sampah di enam desa dalam rentang waktu 1,5 tahun mulai April 2022. Program ini antara lain berisi kegiatan edukasi pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah kepada 1.000 keluarga yang tinggal di enam desa tersebut, serta meningkatkan kapasitas Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS3R) dan bank sampah untuk menciptakan ekonomi sirkular. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan sampah rumah tangga dari 180 kg menjadi 360 kg per hari melalui kolaborasi dengan enam unit TPS3R, yang masing-masing terdapat di setiap desa.
Baca Juga: Hari Bumi, Anies Luncurkan Pengelolaan Sampah Digital
Keenam TPS3R tersebut adalah TPS3R Resik Mandiri di Desa Sambiroto, TPS3R Kampung Pilah Sampah di Desa Mangkang Kulon, TPS3R Sendang Mulyo di Desa Sendang Mulyo, TPS3R Sido Rahayu di Desa Purwosari, TPS3R Polaman di Desa Polaman, dan TPS3R Gemah di Desa Gemah. Riswan Sipayung, Presiden Direktur Dow Indonesia, mengatakan sampah merupakan permasalahan kompleks, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, dan diperlukan kolaborasi berkelanjutan antar para pemangku kepentingan untuk mengatasinya.
Melalui potensi tersebut, pemerintah terus mendorong kolaborasi swasta dengan pemerintah daerah mengurai permasalahan sampah bermanfaat bagi ekonomi . Inisiatif kali ini dilakukan oleh perusahaan material science Dow bekerja sama dengan Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional yang bergerak di bidang perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dengan membantu pengelolaan sampah sekaligus mempromosikan ekonomi sirkular di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Didukung penuh oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, inisiatif ini membantu program pemkot dalam mengatasi masalah sampah melalui sejumlah program pengelolaan sampah di enam desa dalam rentang waktu 1,5 tahun mulai April 2022. Program ini antara lain berisi kegiatan edukasi pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah kepada 1.000 keluarga yang tinggal di enam desa tersebut, serta meningkatkan kapasitas Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS3R) dan bank sampah untuk menciptakan ekonomi sirkular. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan sampah rumah tangga dari 180 kg menjadi 360 kg per hari melalui kolaborasi dengan enam unit TPS3R, yang masing-masing terdapat di setiap desa.
Baca Juga: Hari Bumi, Anies Luncurkan Pengelolaan Sampah Digital
Keenam TPS3R tersebut adalah TPS3R Resik Mandiri di Desa Sambiroto, TPS3R Kampung Pilah Sampah di Desa Mangkang Kulon, TPS3R Sendang Mulyo di Desa Sendang Mulyo, TPS3R Sido Rahayu di Desa Purwosari, TPS3R Polaman di Desa Polaman, dan TPS3R Gemah di Desa Gemah. Riswan Sipayung, Presiden Direktur Dow Indonesia, mengatakan sampah merupakan permasalahan kompleks, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, dan diperlukan kolaborasi berkelanjutan antar para pemangku kepentingan untuk mengatasinya.
Lihat Juga :