Luhut: Kadang Kita Nyinyir, Tapi Indonesia Tidak Bisa Terlepas dari China
Senin, 22 Juni 2020 - 14:49 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga: Sri Mulyani Ramal Ekonomi RI Minus, Luhut: Lebih Baik di Antara Emerging Market )
Oleh karena itu, sejak Joko Widodo menjabat presiden Indonesia, Luhut menyebut bahwa hubungan antara Indonesia dengan China, Timur Tengah dan Amerika Serikat sangat baik. Salah satunya, investasi yang masuk pertama kali ke Tanah Air dari Abu Dhabi sebanyak USD20 miliar dan keseluruhan statusnya on going.
"Sekarang zaman Presiden Jokowi saya kira hubungan kita dengan tiga-tiga ini (China, UEA, AS) saya boleh katakan sangat baik. Kita dengan Abu Dhabi saya pikir baru pertama kali ada investasi yang masuk hampir USD20 miliar sepanjang sejarah republik. Dan itu semua on going," paparnya.
"Kedua dengan Tiongkok, saya pikir investasi terus meningkat dan mereka mematuhi kriteria yang kita berikan. Jadi tidak sekadar masuk, ada lima kriteria untuk masuk Indonesia; pertama, dia harus bawa first class technology, kedua, dia harus teknologi transfer, ketiga, dia harus added value, empat, dia harus melakukan b to b untuk menghindari deperated. Kelima, dia harus menggunakan tenaga kerja Indonesia sebanyak mungkin," terang Luhut.
Oleh karena itu, sejak Joko Widodo menjabat presiden Indonesia, Luhut menyebut bahwa hubungan antara Indonesia dengan China, Timur Tengah dan Amerika Serikat sangat baik. Salah satunya, investasi yang masuk pertama kali ke Tanah Air dari Abu Dhabi sebanyak USD20 miliar dan keseluruhan statusnya on going.
"Sekarang zaman Presiden Jokowi saya kira hubungan kita dengan tiga-tiga ini (China, UEA, AS) saya boleh katakan sangat baik. Kita dengan Abu Dhabi saya pikir baru pertama kali ada investasi yang masuk hampir USD20 miliar sepanjang sejarah republik. Dan itu semua on going," paparnya.
"Kedua dengan Tiongkok, saya pikir investasi terus meningkat dan mereka mematuhi kriteria yang kita berikan. Jadi tidak sekadar masuk, ada lima kriteria untuk masuk Indonesia; pertama, dia harus bawa first class technology, kedua, dia harus teknologi transfer, ketiga, dia harus added value, empat, dia harus melakukan b to b untuk menghindari deperated. Kelima, dia harus menggunakan tenaga kerja Indonesia sebanyak mungkin," terang Luhut.
(akr)
Lihat Juga :