Negara Ini Kapok, Babak Belur Sendiri Jika Lawan Rusia

Jum'at, 24 Juni 2022 - 10:50 WIB
loading...
Negara Ini Kapok, Babak Belur Sendiri Jika Lawan Rusia
Tank-tank tempur Rusia saat menyerbu wilayah Donbas. FOTO/REUTERS
A A A
BRUSSELS - Uni Eropa didesak menghentikan tambahan sanksi terhadap Rusia atas invasi ke Ukraina . Namun sebaliknya, yakni mengubah taktik dengan mendorong negosiasi dan gencatan senjata.

Hal itu disampaikan pembantu senior Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban di sela pertemuan puncak para pemimpin UE baru-baru ini. Semakin banyak sanksi yang dilancarkan justru akan melukai blok tersebut sementara Rusia tetap bertahan.

"Pada akhirnya Eropa akan berada di pihak yang kalah dalam perang ini karena masalah ekonomi. Rekomendasi kami adalah kami harus menghentikan sanksi," kata Orban dilansir Reuters, Jumat (24/6/2022).

Baca Juga: Hungaria: Kami Mengutuk Rusia Tapi Juga Harus Realistis

Hungaria salah satu negara Uni Eropa yang paling pro-Rusia karena bergantung pasokan gas dan minyak Rusia. Rusia juga sedang membangun reaktor nuklir untuk Hungaria.

Budapest telah menahan paket sanksi terbaru terhadap Moskow yang mencakup larangan impor minyak Rusia hingga merundingkan pengecualian untuk dirinya sendiri.



"Saat ini yang kami alami adalah semakin banyak sanksi yang kami terima, semakin buruk kondisi kami. Dan Rusia? Ya, itu menyakitkan mereka juga, tetapi mereka bertahan. Dan yang lebih buruk, mereka melanjutkan di Ukraina," kata Balazs Orban.

Sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada Februari lalu. Pada 24 Februari, 27 negara Uni Eropa telah menyetujui enam paket sanksi yang mencakup pembekuan aset dan larangan visa terhadap oligarki dan pejabat Rusia, kontrol ekspor, pembekuan aset bank sentral, pemutusan hubungan bank dari sistem pesan swift dan larangan impor minyak dan batu bara.

Namun demikan, sejumlah pejabat berpendapat bahwa oligarki individu Rusia tetap bisa hidup tanpa yacht. Bahkan meungkin telah memindahkan aset likuidnya ke luar UE. Sementara terkait larangan ekspor tidak digubris oleh China dan negara lain.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1929 seconds (11.97#12.26)