Pasar Surat Utang Indonesia Lebih Baik Dibandingkan Sejumlah Negara

Jum'at, 01 Juli 2022 - 13:02 WIB
loading...
Pasar Surat Utang Indonesia Lebih Baik Dibandingkan Sejumlah Negara
Sri Mulyani menyebut kinerja pasar surat utang Indonesia lebih baik dibanding sejumlah negara. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai bahwa kinerja pasar surat berharga negara (SBN) domestik Indonesia cukup resilien. Dia mengatakan, meski terjadi capital outflow, koreksi terhadap SBN Indonesia untuk 10 tahun (10Y) hanya naik 17,3% secara year-to-date/ytd, masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Baca juga: Pembiayaan Melalui Surat Utang Turun 72,5% hingga Mei 2022

"Seperti Filipina yang naik 42%, Meksiko 21%, dan Malaysia 20%. Kenaikan 17% di Indonesia ini relatif lebih baik, karena ditopang kebijakan dan postur fiskal yang terus kita komunikasikan secara kredibel dan hati-hati," ujar Sri dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI dan Gubernur Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (1/7/2022).

Dia mengatakan, spread SUN IDR 10Y terhadap UST 10Y masih lebih rendah dibandingkan awal tahun ytd dari 473 menjadi 417, kembali pada tren menyempit. Yield SUN IDR 10Y naik 14,1% ytd, yang juga menurut Sri lebih baik dibandingkan LCY 10Y Meksiko 20,6%, Malaysia 18,1%, Filipina 49,9%, dan AS 104,6%.

"Dampak FOMC Meeting di Mei lalu relatif lebih kecil ke yield SBN, turun 1,9%," ungkap Sri.

Dia menyebutkan, investor cenderung risk-off menghadapi tekanan global, namun secara bertahap sudah masuk kembali ke pasar. Porsi incoming bids lelang SUN SBSN masih terbesar pada tenor pendek SPN 40% dan SPNS 37%.

Kendati demikian, Sri masih mewaspadai tekanan di pasar SBN. Meningkatnya suku bunga The Fed bisa mendorong kenaikan suku bunga di 2022, dengan yield SUN IDR 10Y diperkirakan antara 6,81-8,73% pada akhir 2022.

Baca juga: Honda ADV 160 Resmi Meluncur dengan Harga Mulai Rp39,25 Juta, Ini Kelebihannya

"Penyesuaian strategi pembiayaan lanjutan perlu dilakukan untuk menjaga biaya yang efisien dengan risiko terkendali. Meski pasar SBN domestik resilien, perlu dicermati dampak peningkatan cost of fund akibat normalisasi kebijakan moneter," pungkas Sri.

(uka)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1441 seconds (11.210#12.26)