Besok, Rupiah Diramal Bisa Lewati Batas Keramat Rp15.000
Selasa, 05 Juli 2022 - 16:39 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah diprediksi bisa tembus Rp15.000. Foto/YorriFarli/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 22 poin di level Rp14.993 per dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan sore ini, Selasa (5/7/2022). Salah satu faktor pemicu melemahnya mata uang garuda adalah tekanan faktor global berupa kenaikan suku bunga The Fed.
Baca juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp15.000/USD, Ekonom: BI Perlu Segera Naikkan Suku Bunga
Kebijakan The Fed itu membuat sebagian dana asing di pasar keuangan domestik terbang ke Amerika memburu imbal hasil yang lebih tinggi. Tak pelak, banyak rupiah yang ditukar ke dolar dalam jumlah besar hingga menurunkan nilainya.
Mengantisipasi itu, Bank Indonesia (BI) bersiap-siap dengan kebijakan baru agar rupiah tidak terlalu letoi. Makanya, BI terus memantau perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan memengaruhi kondisi dalam negeri.
"Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Serta, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi, stabilitas keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan," ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (5/7/2022).
Baca juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp15.000/USD, Ekonom: BI Perlu Segera Naikkan Suku Bunga
Kebijakan The Fed itu membuat sebagian dana asing di pasar keuangan domestik terbang ke Amerika memburu imbal hasil yang lebih tinggi. Tak pelak, banyak rupiah yang ditukar ke dolar dalam jumlah besar hingga menurunkan nilainya.
Mengantisipasi itu, Bank Indonesia (BI) bersiap-siap dengan kebijakan baru agar rupiah tidak terlalu letoi. Makanya, BI terus memantau perkembangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian dan memengaruhi kondisi dalam negeri.
"Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Serta, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi, stabilitas keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut stance kebijakan bila diperlukan," ujar pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (5/7/2022).
Lihat Juga :