Dihantui Resesi, Negeri Kanguru Tetap Naikkan Suku Bunga

Selasa, 05 Juli 2022 - 17:55 WIB
loading...
Dihantui Resesi, Negeri...
Bank sentral Australia menaikan suku bunganya untuk meredakan inflasi. Foto/worldfinance.com
A A A
JAKARTA - Dilansir dari CNBC Australia, Bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) hari ini (5/7/2022) menaikkan suku bunga untuk bulan ketiga berturut-turut dan kemungkinan akan bertambah lagi ke depannya demi menahan lonjakan inflasi , bahkan dengan risiko penurunan ekonomi yang menghantui.

Baca juga: Emirates Terbang 14 Jam dengan Lubang Besar di Tubuh Pesawat, Penumpang Ketakutan

Mengakhiri pertemuan kebijakan Juli, RBA memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 1,35%, menandai kenaikan 125 basis poin sejak Mei dan rangkaian pergerakan tercepat sejak 1994.

"Dewan mengharapkan untuk mengambil langkah lebih lanjut dalam proses normalisasi kondisi moneter di Australia selama beberapa bulan ke depan," kata Gubernur RBA Philip Lowe dalam sebuah pernyataan.

Kenaikan itu diperkirakan secara luas di pasar dan dolar lokal sedikit melemah sebagai reaksi terhadap AUD0,6863 sementara kontrak berjangka mempersempit peluang kenaikan setengah poin lainnya di bulan Agustus.

Lowe yakin ekonomi dapat menahan goncangan ini, didukung dengan pengangguran di posisi terendah selama lima dekade di 3,9% dan lowongan pekerjaan berada dalam kondisi prima. Permintaan rumah tangga juga bertahan dengan baik, sebagian berkat AUD260 miliar dalam cadangan ekstra yang terkumpul selama lockdown pandemi.

Namun, biaya pinjaman yang lebih tinggi pasti akan menjadi hambatan pada daya beli mengingat rumah tangga berutang AUD2 triliun dalam utang hipotek dan nilai perumahan mulai tergelincir setelah bumper di tahun 2021.



Kenaikan yang dilakukan sejauh ini akan menambah sekitar AUD400 per bulan dalam pembayaran hipotek rata-rata AUD620 ribu, dan angka ini masih di luar biaya energi, bensin, kesehatan, dan makanan yang lebih tinggi.

“Tarif diperkirakan akan naik, dan mereka diperkirakan akan 'menggigit',” ujar Bendahara Jim Chalmers, yang Partai Buruhnya memenangkan kuasa kurang dari dua bulan lalu.

Selain itu, musibah banjir di seluruh kawasan pesisir timur dalam beberapa hari terakhir akan memperparah beban dengan mendorong kenaikan harga sayuran dan buah-buahan.

Data resmi tentang inflasi harga konsumen untuk kuartal kedua akan dirilis akhir bulan ini dan diperkirakan akan menunjukkan kenaikan lain yang mengkhawatirkan hingga 6% atau lebih, tingkat yang sudah lama tidak terlihat sejak pajak penjualan nasional diperkenalkan kembali pada tahun 2000.

Inflasi inti juga kemungkinan akan terakselerasi melewati 4,0% dan semakin jauh dari kisaran target RBA 2-3%. Ini adalah alasan utama mengapa pasar dikenai tarif untuk kenaikan setengah poin lagi di bulan Agustus dan rate-nya mencapai setidaknya 3,0% pada akhir tahun.

Lowe sendiri baru-baru ini mengakui bahwa ada "jalur sempit" antara pengetatan yang cukup untuk mengendalikan inflasi atau justru terlalu banyak dan membawa ekonomi masuk ke jurang resesi.

Baca juga: Wakili Indonesia, Mahasiswa ITB Raih Juara di L'Oréal Brandstorm 2022

"Tampaknya mereka sudah siap untuk mengambil risiko dalam bentuk kerugian ekonomi untuk mencapai tujuan inflasi. Pandangan kami adalah bahwa rasa sakit ini akan terwujud, dan kami sekarang melihat pertanda resesi di Australia mulai awal tahun depan. Dengan inflasi yang agak lengket, kami memperkirakan penurunan suku bunga akan agak tertunda, tetapi ternyata telah direncanakan tiga pemotongan 25 bps menjelang akhir tahun depan," ungkap ekonom Nomura Andrew Ticehurst.
(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
Tok! BI Tahan Suku Bunga...
Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan Juli 2026 di level 5,75 Persen
Biaya Nongkrong Kian...
Biaya Nongkrong Kian Mahal, Bikin Orang Enggan Bertemu
Misteri Brankas Rahasia:...
Misteri Brankas Rahasia: Mengapa Banyak Negara Pilih Simpan Cadangan Emasnya di Luar Negeri?
Pemerintah NSW Beri...
Pemerintah NSW Beri Jalur Cepat Proyek Sydney Senilai Rp25 T Besutan Iwan Sunito
Bank Sentral Global...
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas, Hapus Ketergantungan Dolar AS
10 Negara Paling Cocok...
10 Negara Paling Cocok untuk Solo Traveling, Aman dan Ramah Wisatawan
100 Jet Tempur dari...
100 Jet Tempur dari 20 Negara Bersiap Latihan Perang di Australia, Indonesia Kirim T-50I Golden Eagle
Mendagri Minta Pemda...
Mendagri Minta Pemda Perkuat Pasokan dan Distribusi demi Jaga Inflasi Tetap Terkendali
Rekomendasi
3 Warga Sipil Tewas...
3 Warga Sipil Tewas Ditembak OPM, Koops TNI Habema Buru para Pelaku
Penampakan Alphard yang...
Penampakan Alphard yang Disita KPK Terkait Kasus Bupati Lombok Barat
KPK Periksa Sekjen Kementerian...
KPK Periksa Sekjen Kementerian ATR/BPN dan Pejabat Kemenhut terkait Kasus Bupati Kuansing
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
AREA Indonesia Siap...
AREA Indonesia Siap Perkuat Kolaborasi Dukung Program 3 Juta Rumah
EskaIasi Laut Merah...
EskaIasi Laut Merah Tekan Rupiah, Dolar AS Ditutup ke Rp17.936 Sore Ini
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
Kerugian Ekonomi Akibat...
Kerugian Ekonomi Akibat Obesitas Anak Capai Rp5.280 Triliun, Novo Nordisk Perluas Program Pencegahan
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved