Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra: Garuda Siap Mengembalikan Kepercayaan Publik

Rabu, 14 September 2022 - 10:05 WIB
loading...
Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra: Garuda Siap Mengembalikan Kepercayaan Publik
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra
A A A
JAKARTA - Karir profesionalnya sejak lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) lebih banyak di industri telekomunikasi. Pada Januari 2020, menjadi jendela baru bagi Irfan Setiaputra. Kementerian BUMN mendapuknya untuk memimpin Garuda Indonesia . Saat itu, Garuda tengah dihadapkan pada sejumlah permasalahan, mulai skandal para pemimpin lamanya, sewa pesawat yang terlalu mahal, hingga utang yang menggunung.

Baru menjabat dua bulan, virus Sars Cov-II menyebar dari Wuhan ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pesawat-pesawat milik Garuda pun akhirnya lebih banyak parkir di hanggar. Bukannya pulih, utang Garuda kian besar hingga mencapai Rp142 triliun. Irfan dan manajemen mengambil risiko besar dengan memilih penyelesaian melalui Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Dalam wawancara dengan Tim KORAN SINDO, Irfan bercerita sempat berpikir untuk mengundurkan diri. Di usianya yang 58 tahun, Irfan tentu tak ingin mengakhiri karirnya dengan catatan buruk.

(Baca juga:Jalan Terang untuk Garuda Indonesia)

Akhirnya, dia bersama manajemen melakukan sejumlah kebijakan, mulai dari penundaan gaji, mengembalikan pesawat-pesawat yang beban operasionalnya bikin rugi, hingga melakukan negosiasi utang dengan para mitra.

Manajamen Garuda sekarang pun mengubah beberapa kebiasaan lama, seperti dengan tidak lagi mengedepankan pemajangan foto dan video pramugari dalam promosi. Garuda akan lebih mengedepankan pelayanan, ketulusan, dan respect terhadap penumpang.

Kemudian, Garuda juga membuka kerja sama dengan produk lokal yang mau promosi di dalam pesawat. Irfan bahkan tak sungkan untuk membagikan langsung produk-produk lokal, seperti cokelat dan scarf, kepada penumpang.

Setelah PKPU selesai, Garuda menyongsong era baru. Pemerintah akan menyuntikkan dana sebesar Rp7,5 triliun. Manajemen memastikan uang itu tidak akan digunakan untuk membayar utang, tapi untuk operasional. Garuda pun akan kembali menambah pesawat secara perlahan dengan target 60 pesawat berbagai varian jenis, mulai dari 737 800 NG hingga 330-900 Neo, hingga akhir tahun.

(Baca juga:Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan)

Irfan menegaskan ke depan Garuda akan melihat secara detail setiap rute dengan memilih yang penumpang banyak dan menguntungkan. “Sudah lewat masanya bahwa kita mesti terbang ke mana-mana, ada di mana-mana, dan punya semua jenis pesawat, kayak showroom. Ngapain kita bangga punya pesawat gede, menghasilkan? Enggak,” ujarnya di kantor Garuda Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Ketika ditunjuk jadi Dirut Garuda Indonesia, apa tugas yang diberikan Kementerian BUMN?
Jadi saya masuk, tahulah situasinya. Permintaan Pak Erick (Menteri BUMN) juga simple. Dia enggak ngomong soal pertumbuhan, profitibility. Come along the job. Cuma dia minta kembalikan kebanggaan publik terhadap Garuda.

Awal tahun 2020, virus Sars Cov-II mulai menyebar. Apa yang terjadi saat itu pada Garuda?
Saya mau analogikan sederhana dulu. Kantor saya itu menghadap ke GMF. Tapi smoking room menghadap ke runway, take off landing. Jadi kalau menghadap ke GMF dulu sepi. Pesawat boleh dibilang cuma ada di hanggar. Ketika kita menghadap ke runway, enggak berhenti-henti (pesawat terbang). Saya sempat berpikir ini (bisa) ada tabrakan karena naik-turun (pesawat). Dulu masih banyak birunya (Garuda). Tiba-tiba waktu itu sepi on the other side, runway.

Kita menyadari penurunan revenue secara sangat drastis karena satu hari kita cuma terbang tiga kali. Itupun isinya 10-15 orang. Padahal sebelumnya kita terbang 300 kali per hari. Jadi bisa kebayangkan pendapatannya dropnya gila-gilaan. Sementara cost kita enggak bisa turun gila-gilaan.

Apa yang Anda lakukan setelah melihat itu?
Ada dua yang menjadi konsen utama. Pertama, sewa pesawat karena mayoritas pesawat kita sewa. Kedua, SDM. Ya, otomatis dengan penerbangan sedikit, SDM-nya kebanyakan karena fungsi SDM itu alat produksi. Kita juga melihat direksi ada delapan pada saat masuk ok-ok saja. Tapi setiap kalau terbang 5-10 pesawat, direksi 8, malu juga. Makanya, pada 2021, kita turunin jadi enam.

Garuda melakukan pengurangan karyawan?
Poin saya, langsung lihat dan lakukan beberapa upaya merestrukturisasi kita punya utang. Kan saya juga diwarisi utang perusahaan dan ke depan bagaimana, plus mencakup SDM. Sementara Pak Jokowi ini bilangnya Covid-19 ini kalau bisa jangan PHK orang. Faktanya, kita susah kalau tidak melakukan sesuatu terhadap jumlah orang. Waktu itu, kita dari sisi orang melakukan berbagai upaya. Sampai hari ini, 38% kita turunkan. Dari 7.000 (pegawai) sekarang tinggal 4.000. Anda enggak pernah dengar ribut. Kenapa? Kita lakukan itu sesuai aturan.

Ada karyawan yang memilih keluar karena situasi berat itu?
Saya menyaksikan beberapa Q person di Garuda pergi. Enggak percaya. Tapi, itu sesuatu kewajaran karena mereka punya beban domestik, rumah. Mereka dipotong gaji, terus menghadapi situasi seperti ini. Banyak teman-teman memancing pernyataan saya terhadap proses sebelumnya. Saya cuma bilang dirut itu kerjanya ke depan. Ke belakang itu polisi dan jaksa. Cuma ketika kita gerak ke depan, mesti sesekali nengok ke belakang.

Semua sudah dilakukan, apa hasilnya?
Jadi dari tahun 2020, kita sudah melakukan dua-duanya, dari sisi SDM dan negosiasi sewa pesawat. Sebenarnya tanpa banyak orang tahu, kita saving USD200 juta. Negosiasi satu-satu. Apalagi 2020, menjelang Desember, itu ribuan orang mau bepergian. Saya ke lapangan, terminal 3 excited. Waktu itu kalau 2021 beres, kembali normal ke 2019, kita mestinya dengan sangat mudah untung Rp3 triliun dari saving. Pada tahun 2021, setelah itu muncul (varian) Delta dan segala macam.

Keuangan semakin memburuk karena pandemi yang berkepanjangan.
Kita terus melakukan negosiasi ke semua pihak sambil tetap enggak bayar. Gimana mau bayar? Income enggak ada. Buku langsung minus, segala macam minus. Ada beberapa diskusi dengan pemegang saham. Alternatif restrukturisasi ini apa sih yang ada? Salah satu yang muncul ke permukaan PKPU, tapi semua orang enggak nyaman dengan proses PKPU. Kenapa? Karena ini perusahaan BUMN. Yang kedua, ini besar. Ketiga, kalau dalam 270 hari tidak tercapai kesepakatan, mau enggak mau, kita pailit.

Banyak pihak mempertanyakan pilihan PKPU?
Saya sering dipanggil sama menteri yang enggak ada hubungannya dengan Garuda. Ditanya, kamu yakin menang PKPU? Enggak. Cuma saya bisa janjikan kepada Bapak dan tim, bahwa kita bekerja keras. There is logic process ini karena enggak ada ceritanya utang kita yang menumpuk ini diselesaikan dengan cara biasa. Cara satu-satunya restrukturisasi. Jadi, agak ngeri-ngeri sedap.

Apa yang Anda pikirkan pada saat awal memilih PKPU?
Itu masa-masa yang sangat kepengin keluar. Enggak tahan juga terhadap pressure-nya. Bukan kerjanya. Tapi bahwa kemudian apa yang akan terjadi selama pada proses PKPU-nya, saya bukan orang legal. Saya kerja kalau utang kita bayar. Ini utangnya gila-gilaan walaupun saya bisa bilang bukan saya yang bikin.

Bagaimana pembagian tugas untuk negosiasi dengan para kreditur?
Yang ngutang kita. Kita hadapi. Gila kan. Jadi, ada kasus-kasus yang cukup menarik, waktu kita negosiasi dan PKPU, heboh semua orang. Kita bagi tugas, saya minta semua direksi ketemu sama para kreditur. Ada yang telepon, ada yang ketemu. Kita menyaksikan ada beberapa kreditur rumahnya disita.

Apa yang dibicarakan dengan para kreditur?
Saya mengatakan dengan teman-teman direksi, kita memulai dengan meminta maaf. Akui saja, enggak usah menghindari dan berkelit. Kita datang dengan proposal. Kita bilang proposalnya bagus. Nah, itu kejadian pertama, morally dan mentally, saya mungkin para direksi lumayan shock. Problemnya, saya harus ngomong dengan para kreditur bahwa mayoritas utangnya akan dipotong 80%. Sisanya, diutangin lagi. Sebagian jadi saham. Untuk bank-bank sama BUMN, utangnya kita panjangin jadi 22 tahun. Bayarnya di ujung setelah 22 tahun, bunganya 0,1% per tahun. Jadi, gemetar saya.

Ada jenis pesawat yang tidak digunakan lagi?
Beberapa pesawat yang kita anggap enggak bisa bikin untung, makanya didrop. Ada dua tipe pesawat yang enggak cocok sama kita. Pertama, ATR yang kita pindahin ke Citilink. Kedua, CRJ Bombardier. Bombardier itu dari kita beli, setiap tahun rugi. Saat ini pesawat yang terbang 37 per hari. Setiap hari nambah. Sampai akhir tahun 60-an pesawat. Kita hanya akan terbang (rute) kalau itu menghasilkan untung.

Bagaimana dengan penerbangan ke luar negeri?
Asal tahu saja, semua rute itu yang hidup sebelum pandemi, selama pandemi kita tetap layani. Tahu enggak kenapa? Walaupun isinya sedikit, penumpangnya 10-20 dan pesawat segede alahim. Banyak orang enggak tahu, konstitusi kita menyatakan warga negara Indonesia di luar negeri, kalau mau pulang adalah kewajiban negara membawanya pulang.

Bagaimana menutupi kerugian penerbangan minim penumpang itu?
Di perjalanan akhirnya kita tahu bahwa ya sudah fokus ke kargo. Makanya tahun lalu, saya ke Manado. Kita bawa ikan ke Jepang dan segala macam. Penumpang biasanya menghindari barang melebihi batas bagasi karena mahal.Kita bikin diskon 80%. Kalau dari Singapura cuma $5 (per kg). Kenapa? Pertama, masih ada space di bawah. Kedua, kita ingin lebih banyak mendorong lokal.
(dar)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2788 seconds (11.210#12.26)