Tingkatkan Layanan, Ketersediaan Tenaga Kerja Kesehatan Perlu Ditingkatkan

Selasa, 20 September 2022 - 16:30 WIB
loading...
Tingkatkan Layanan, Ketersediaan Tenaga Kerja Kesehatan Perlu Ditingkatkan
Kualitas SDM dan ketersediaan tenaga kerja kesehatan perlu ditingkatkan. FOTO/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Transformasi layanan kesehatan primer yang dimulai dari pembenahan pada tantangan struktural perlu dilakukan. Komitmen pemangku kepentingan dalam meningkatkan ketersediaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga kerja kesehatan juga diperlukan.

Praktisi kesehatan dr. Hasto Wardoyo mengatakan saat ini lulusan kedokteran memiliki kualifikasi beragam yang pada akhirnya mendilusi kualitas pelayanan kesehatan primer. dibutuhkan solusi jitu dalam menjawab berbagai tantangan tersebut.

Belum lagi adanya permasalahan dilematis yang kerap dialami dokter, yaitu pertimbangan antara pengabdian dan orientasi pencapaian diri. Konflik batin semacam ini menjadi tidak terhindarkan.

"Dokter yang tekun dan mau melayani masyarakat sepenuhnya sebagai seorang provider sekaligus manajer di Puskesmas tidak lebih dari 10 persen. Ini tantangan kita untuk memajukan layanan primer," ujarnya dalam pernyataannya, Selasa (17/9/2022).

Lihat SINDOgrafis: Perlu Diketahui. Ini Perbedaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan

Dia menjelaskan, dilema ini perlu menjadi perhatian pemerintah karena ada sebuah kegentingan dalam pemerataan pelayanan, dengan jumlah tenaga dokter yang tidak mencukupi. Itu sebabnya, dibutuhkan kesadaran, empati, dan idealisme pelayanan sebagai sebuah sikap nasionalisme para dokter sejak awal.

Berdasarkan data Kemenkes 2022, menyebutkan perbandingan jumlah tenaga kesehatan termasuk spesialis dengan populasi di Indonesia adalah 0,68 per 1000 populasi. Bandingkan dengan standar yang ditetapkan World Health Organization, yakni 1 tenaga kesehatan untuk 1.000 populasi.

Angka ketersediaan tenaga kesehatan Indonesia juga masih dibawah standar negara-negara Asia yang 1,2 per 1.000, atau bahkan negara-negara OECD atau Eropa yang jauh lebih baik di angka 3,2 per 1.000 populasi. Beruntung, lanjut Hasto, hingga saat ini sebagian besar publik masih meyakini bahwa dokter adalah profesi yang mulia dan terhormat.

"Animo masyarakat dan para orang tua terhadap pendidikan kedokteran pun masih sangat tinggi, sehingga dorongan untuk menggeluti profesi bidang kesehatan masih sangat besar. Situasi ini tentu bisa menjadi momentum yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mencetak lulusan dokter terbaik," ujar dia.

Baca Juga: Ini 3 Perbedaan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang Perlu Diketahui

Harapannya, kata Hasto, pada akhirnya pemerintah tak hanya mampu memenuhi kuota dokter sebagai provider kesehatan, tapi juga memastikan kesamaan kualitas setiap dokter yang dicetak. "Sehingga jargon Ethos, Logos, dan Pathos bagi para pelayan kesehatan seperti yang disampaikan Aristotetes dapat diamalkan oleh semua dokter," imbuhnya.

(nng)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1018 seconds (10.101#12.26)