Investor Cemas AS Masuk Palung Resesi, Wall Street Dibuka Ambruk
Jum'at, 30 September 2022 - 22:15 WIB
loading...
Wall Street dibuka ambruk karena ancaman resesi Amerika. Foto/VanityFair
A
A
A
JAKARTA - Memasuki akhir bulan, tiga indeks Wall Street dibuka ambruk pada perdagangan Jumat (30/9/202). Katalis tren suku bunga agresif masih menjadi menu utama investor pasar modal Amerika Serikat, yang ditakutkan bakal menyeret masuk Negeri Paman Sam dalam palung resesi .
Baca juga: Wall Street Kembali Terkapar, Indeks S&P 500 Menyentuh Level Terendah
Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 0,73% di 29.011,86, S&P 500 (SPX) terkapar sebesar 0,58% di 3.619,92, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) merosot 0,48% di 10.684,52.
Komponen saham yang paling aktif diperdagangkan di bawah indeks SPX antara lain Carnival Corp, Apple, dan Micron. Tiga top gainers ditempati oleh Charles River Laboratories tumbuh 4,49%, Centene naik 1,38%, dan Generac menguat 0,87%, sedangkan top losers diduduki oleh Nike turun 13,23%, Carnival Corp anjlok 12,39%, dan Under Armour A tertekan 10,45%.
Wall Street telah menghadapi tekanan jual selama beberapa bulan terakhir yang penuh gejolak ini, selain karena kekhawatiran penurunan ekonomi akibat tren suku bunga, juga karena ketidakpastian kapan lonjakan inflasi bakal menyusut. Meskipun serangkaian data ekonomi memberi sinyal positif atas aktivitas konsumsi.
Baca juga: Wall Street Kembali Terkapar, Indeks S&P 500 Menyentuh Level Terendah
Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 0,73% di 29.011,86, S&P 500 (SPX) terkapar sebesar 0,58% di 3.619,92, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) merosot 0,48% di 10.684,52.
Komponen saham yang paling aktif diperdagangkan di bawah indeks SPX antara lain Carnival Corp, Apple, dan Micron. Tiga top gainers ditempati oleh Charles River Laboratories tumbuh 4,49%, Centene naik 1,38%, dan Generac menguat 0,87%, sedangkan top losers diduduki oleh Nike turun 13,23%, Carnival Corp anjlok 12,39%, dan Under Armour A tertekan 10,45%.
Wall Street telah menghadapi tekanan jual selama beberapa bulan terakhir yang penuh gejolak ini, selain karena kekhawatiran penurunan ekonomi akibat tren suku bunga, juga karena ketidakpastian kapan lonjakan inflasi bakal menyusut. Meskipun serangkaian data ekonomi memberi sinyal positif atas aktivitas konsumsi.
Lihat Juga :