Siapa yang Untung dari Meledaknya Pipa Gas Nord Stream 2, AS atau Rusia?
Sabtu, 01 Oktober 2022 - 09:40 WIB
loading...
A
A
A
"Tidak ada negara yang ingin mengambil risiko menempatkan permintaan besar energinya pada pasokan Rusia. Saya pikir ini mempercepat dorongan UE untuk menjadi mandiri secara energi melalui energi bersih," papar Menteri Energi AS.
Seperti diketahui Perang di Ukraina berdampak besar kepada lonjakan harga energi global. Mereka telah menjadi kontributor terbesar dari fenomena melonjaknya inflasi di Inggris, Zona Euro dan AS, sesuatu yang mengancam bakal memangkas pertumbuhan ekonomi global.
Meningkatnya biaya hidup telah membuat para pemimpin politik di seluruh dunia mengevaluasi kembali dari mana mereka mendapatkan energi , menurut Granholm saat berbicara dalam Konferensi Tingkat Menteri Badan Energi Atom Internasional di Wina.
"Setiap negara melihat risiko terkait volatilitas bahan bakar fosil. Semua orang mencari bagaimana mereka bisa membangun kemandirian energi,"
Energi angin, matahari, dan nuklir adalah salah satu alternatif yang coba ditingkatkan oleh banyak negara karena mereka juga bertujuan untuk memenuhi target perubahan iklim Paris.
Namun analisis Universitas Columbia menunjukkan, bahwa Rusia memiliki 46% bagian dari kapasitas pengayaan global untuk bahan bakar nuklir, dan Badan Energi Internasional memperingatkan pada bulan Juli bahwa China memiliki pangsa 80% "dalam semua tahap manufaktur utama panel surya".
Ketika ditanya bagaimana AS dan yang lainnya tidak terlalu bergantung pada alternatif semacam itu, Granholm menjawab bahwa "langkah menuju energi bersih ini bisa menjadi bagian dari rencana perdamaian yang hebat" dan bahwa langkah seperti itu "membantu banyak orang, membantu ekonomi, dan membantu keamanan energi".
Seperti diketahui Perang di Ukraina berdampak besar kepada lonjakan harga energi global. Mereka telah menjadi kontributor terbesar dari fenomena melonjaknya inflasi di Inggris, Zona Euro dan AS, sesuatu yang mengancam bakal memangkas pertumbuhan ekonomi global.
Meningkatnya biaya hidup telah membuat para pemimpin politik di seluruh dunia mengevaluasi kembali dari mana mereka mendapatkan energi , menurut Granholm saat berbicara dalam Konferensi Tingkat Menteri Badan Energi Atom Internasional di Wina.
"Setiap negara melihat risiko terkait volatilitas bahan bakar fosil. Semua orang mencari bagaimana mereka bisa membangun kemandirian energi,"
Energi angin, matahari, dan nuklir adalah salah satu alternatif yang coba ditingkatkan oleh banyak negara karena mereka juga bertujuan untuk memenuhi target perubahan iklim Paris.
Namun analisis Universitas Columbia menunjukkan, bahwa Rusia memiliki 46% bagian dari kapasitas pengayaan global untuk bahan bakar nuklir, dan Badan Energi Internasional memperingatkan pada bulan Juli bahwa China memiliki pangsa 80% "dalam semua tahap manufaktur utama panel surya".
Ketika ditanya bagaimana AS dan yang lainnya tidak terlalu bergantung pada alternatif semacam itu, Granholm menjawab bahwa "langkah menuju energi bersih ini bisa menjadi bagian dari rencana perdamaian yang hebat" dan bahwa langkah seperti itu "membantu banyak orang, membantu ekonomi, dan membantu keamanan energi".
(akr)
Lihat Juga :