Ketergantungan Eropa ke Rusia, Rogoh Rp1.485 Triliun Buat Impor Migas hingga Batu Bara
Senin, 10 Oktober 2022 - 11:26 WIB
loading...
A
A
A
"Kami tidak dapat memastikan apakah kami telah mencapai puncak batu bara dan gas di sektor listrik. Emisi sektor listrik global masih mendorong level tertinggi sepanjang masa ketika mereka harus turun dengan sangat cepat. Dan bahan bakar fosil pada saat yang sama mendorong kita ke dalam krisis iklim juga menyebabkan krisis energi global." kata Analis Listrik Senior di Ember, MaĆgorzata Wiatros-Motyka.
UE sendiri tetap menjadi importir bahan bakar fosil terbesar dari Rusia meskipun volume secara keseluruhan telah berkurang setengahnya sejak awal invasi.
Moskow menjadi sorotan, dimana mereka terus menarik pendapatan dari negara-negara yang berusaha mengisolasinya. Sementara itu impor gas UE menurun secara signifikan, dan impor batu bara saat ini telah berhenti sejak sanksi mulai berlaku pada Agustus, Crea memperkirakan UE masih mengimpor bahan bakar fosil Rusia senilai sekitar 260 juta euro per hari.
"Ketika eropa mencoba membatasi harga dan menekan impor dari Rusia, penting bagi negara-negara Eropa untuk mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi bersih. Tahun ini telah mengungkapkan ketergantungan pada bahan bakar fosil sebagai keamanan nasional yang mendasar dan kerentanan ekonomi," kata analis utama Crea, Lauri Myllyvirta.
Pembelian minyak India dan China juga telah mengimbangi sebagian besar penurunan pengiriman Rusia ke Eropa, ungkap analisis Financial Times baru-baru ini. Data yang ada menunjukkan, pertumbuhan volume terbesar berasal dari India.
Mesir, yang bergantung pada pengiriman biji-bijian dari Rusia dan Ukraina, juga muncul sebagai pembeli yang signifikan, berdasarkan laporan crea. Ini bertentangan dengan statusnya sebagai negara tuan rumah untuk KTT perubahan iklim PBB berikutnya.
Negara ini menjadi importir bahan bakar fosil terbesar berikutnya sejak perang Ukraina di belakang UE, China, Turki, India, Korea Selatan, dan Jepang.
UE sendiri tetap menjadi importir bahan bakar fosil terbesar dari Rusia meskipun volume secara keseluruhan telah berkurang setengahnya sejak awal invasi.
Moskow menjadi sorotan, dimana mereka terus menarik pendapatan dari negara-negara yang berusaha mengisolasinya. Sementara itu impor gas UE menurun secara signifikan, dan impor batu bara saat ini telah berhenti sejak sanksi mulai berlaku pada Agustus, Crea memperkirakan UE masih mengimpor bahan bakar fosil Rusia senilai sekitar 260 juta euro per hari.
"Ketika eropa mencoba membatasi harga dan menekan impor dari Rusia, penting bagi negara-negara Eropa untuk mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke energi bersih. Tahun ini telah mengungkapkan ketergantungan pada bahan bakar fosil sebagai keamanan nasional yang mendasar dan kerentanan ekonomi," kata analis utama Crea, Lauri Myllyvirta.
Pembelian minyak India dan China juga telah mengimbangi sebagian besar penurunan pengiriman Rusia ke Eropa, ungkap analisis Financial Times baru-baru ini. Data yang ada menunjukkan, pertumbuhan volume terbesar berasal dari India.
Mesir, yang bergantung pada pengiriman biji-bijian dari Rusia dan Ukraina, juga muncul sebagai pembeli yang signifikan, berdasarkan laporan crea. Ini bertentangan dengan statusnya sebagai negara tuan rumah untuk KTT perubahan iklim PBB berikutnya.
Negara ini menjadi importir bahan bakar fosil terbesar berikutnya sejak perang Ukraina di belakang UE, China, Turki, India, Korea Selatan, dan Jepang.
Lihat Juga :