IMF: Jika Ekonomi Global Terbelah, Asia Jadi Pecundang Terbesar

Senin, 31 Oktober 2022 - 13:22 WIB
loading...
IMF: Jika Ekonomi Global...
IMF menilai perdagangan global berpotensi terpecah akibat ketegangan geopolitik belakangan ini. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, Asia-Pasifik akan mengalami kerugian paling besar dibandingkan kawasan lainnya jika sistem perdagangan global terpecah akibat ketegangan geopolitik.

IMF dalam penelitian yang dirilis pada Jumat (28/10) lalu menyebutkan, negara-negara Asia dan Pasifik bisa kehilangan lebih dari 3% produk domestik bruto (PDB) jika perdagangan terputus di sektor-sektor yang terkena sanksi chip AS baru-baru ini terhadap China, dan jika hambatan non-tarif di bidang lain dinaikkan ke tingkat era Perang Dingin.

Baca Juga: Putin: Barat Buang Prinsip-prinsip Perdagangan Global ke Tempat Sampah!

Sementara, sektor-sektor di negara-negara Asia yang terpaksa berkontraksi karena perdagangan yang berkurang dapat menderita kehilangan pekerjaan rata-rata setinggi 7%.

"Ketika kita berbicara tentang perkembangan dari meningkatnya ketidakpastian perdagangan dan langkah-langkah yang lebih ketat, (itu) pada akhirnya akan meningkat menjadi fragmentasi di mana dunia terbagi," ungkap Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan, seperti dikutip CNBC.

Dia mengatakan, Asia berisiko kehilangan banyak karena merupakan pemain kunci dalam rantai pasokan global. Di dunia yang terfragmentasi, tegas dia, Asia berisiko kehilangan lebih dari pihak mana pun.

Tanda-tanda fragmentasi global muncul selama perang dagang antara AS dan China pada tahun 2018. Namun tanda-tanda yang lebih mengkhawatirkan, seperti perang Rusia-Ukraina, telah muncul sejak saat itu. "Sanksi terhadap Rusia telah menambah lebih banyak ketidakpastian seputar hubungan perdagangan," kata IMF.

IMF menyatakan, ketidakpastian kebijakan seputar perdagangan, bukan hanya pembatasan itu sendiri, dapat menghambat aktivitas ekonomi karena perusahaan menghentikan perekrutan dan investasi dan perusahaan baru menunda masuk ke pasar. IMF menemukan bahwa ketegangan perdagangan AS-China 2018 mengurangi investasi sekitar 3,5% setelah dua tahun.

Baca Juga: Cetak Rekor, Neraca Dagang RI 27 Bulan Surplus

Dampak dari fragmentasi perdagangan lebih besar untuk pasar negara berkembang di Asia dan untuk perusahaan dengan utang tinggi. IMF menyatakan, sementara penelitiannya berfokus pada dampak fragmentasi pada perdagangan, mungkin ada kerugian lain yang lebih dalam, seperti "terurainya ikatan keuangan."

“Fragmentasi keuangan dapat menyebabkan biaya jangka pendek dari pelepasan posisi keuangan yang cepat, dan biaya jangka panjang dari diversifikasi yang lebih rendah dan pertumbuhan produktivitas yang lebih lambat karena berkurangnya investasi asing langsung," kata IMF.

Badan internasional itu mendesak negara-negara untuk menghentikan pembatasan perdagangan yang merusak dan mengurangi ketidakpastian melalui komunikasi yang lebih jelas tentang tujuan kebijakan.

"Penekanan yang lebih besar dapat ditempatkan pada digitalisasi, investasi dalam pendidikan tetapi yang paling penting, kerja sama internasional, karena kami ingin menghindari risiko perpecahan, penting bahwa kita semua bertindak sekarang, bertindak bersama-sama," tegas Srinivasan.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Selat Hormuz Kembali...
Selat Hormuz Kembali Dibuka, Kilang-kilang Asia Ogah Ikut Demam Minyak Teluk
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Kuwait Tawarkan Minyak...
Kuwait Tawarkan Minyak ke Pembeli Asia, Pertama Kalinya Sejak Konflik Iran
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Rekomendasi
Nyaris Kaya Mendadak,...
Nyaris Kaya Mendadak, Driver Ojol Tak Menyangka Temuan Ini Disebut Jeratan Gaib
Pengacara: Penangkapan...
Pengacara: Penangkapan Roy Suryo-Tifa seperti Penculikan para Jenderal di Film
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved