Rebutan Investor, Jokowi: Saya Enggak Mau Dengar Lagi Ada yang Mempersulit!

Rabu, 30 November 2022 - 14:53 WIB
loading...
Rebutan Investor, Jokowi: Saya Enggak Mau Dengar Lagi Ada yang Mempersulit!
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan, kepada kepada pemerintah pusat dan daerah agar tidak mempersulit investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) mengingatkan, kepada kepada pemerintah pusat dan daerah agar tidak mempersulit investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia. Pasalnya terang Jokowi, saat ini investasi menjadi rebutan semua negara-negara dunia di masa yang sulit sekarang ini.

"Oleh sebab itu jangan sampai kita ada yang mempersulit. Saya gak mau dengar lagi ada yang mempersulit. Baik di pusat maupun di daerah, baik di pusat di provinsi di kabupaten maupun di kota semuanya jangan sampai ada yang mengganggu ini," kata Jokowi dalam sambutannya di Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2022, Rabu (30/11/2022).

Baca Juga: Jokowi: Berkat Infrastruktur, Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Tertinggi di Dunia

Jokowi menjelaskan, bahwa saat ini Indonesia telah mendapatkan kepercayaan dari negara-negara lain terkait investasi. Dirinya pun memerintahkan agar tidak salah memperlakukan investor saat ini.

"Karena kepercayaan itu sudah kita peroleh, trustnya sudah peroleh, sekarang bagaimana implementasi dari policy-policy yang telah kita ambil. Jangan sampai ada yang menganggu kepercayaan yang sudah kita dapatkan, jangan sampai hilang gara-gara kita salah mentreatment, salah memperlakukan investasi yang masuk ke negara kita. Karena ketatnya persaingan dalam merebut investasi," jelasnya.

Baca Juga: Bahlil Umbar Janji di Depan Jokowi: Target Investasi Rp1.200 Triliun Akan Tercapai

Sambung Jokowi mengungkapkan, bahwa investor menjadi rebutan dikarenakan semua negara ingin ada arus modal yang masuk. Karena jika tidak ada tambahan dana, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan terjadi.

"Kita selalu melihat negara mana yang ramai investasinya, kenapa dia ramai kita pelajari lewat intelejen ekonomi kita. Kenapa lebih berbondong-bondong kesana tidak kesini, ada kebijakan tambahan. ada inisiatif tambahan. Task holiday diberikan, perlakuan-perlakuan yang lebih baik kita pelajari semuanya," ungkapnya.

"Tapi kalau nanti di dalam pelaksanaan masih ada yang ganggu-ganggu, ya sudah buyar semuanya yang namanya policy kebijakan yang telah di desain," imbuhnya.

(akr)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1361 seconds (10.55#12.26)