Komite I DPD Minta Riset Kalung Anti-Corona Tetap Dilanjutkan
Sabtu, 11 Juli 2020 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
MoU Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) beberapa waktu lalu, imbuh Kholik, juga harus didorong untuk lebih meyakinkan publik. Sebagai organisasi profesi yang berkaitan dengan pengobatan, dan punya tanggung jawab terhadap penanganan pandemi Covid-19 ini, IDI dinilai lebih relevan untuk membantu menjernihkan isu ini kepada masyarakat.
"DPD mempunyai program pengembangan potensi daerah, diharapkan dapat bersinergi dengan Kementan. Dia berharap hasil-hasil penelitian Litbang Kementan yang bisa disinergikan dengan daerah nantinya," tambahnya.
Terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan Fadjry Djufry mengatakan bahwa produk eucalyptus ini merupakan produk aksesoris aromaterapi berbasis minyak eucalyptus sp. dan didesain dengan teknologi nano dalam bentuk serbuk dan dikemas dalam kantong berpori. Produk ini mengeluarkan aroma secara lepas lambat (slow release), sehingga berfungsi sebagai aromaterapi selama jangka waktu tertentu.
Menurut Fadjry, penggunaannya dengan cara menghirup aroma yang keluar dari kemasannya, atau dengan menghirup langsung dari lubang-lubang kemasannya. "Jadi prinsip kerjanya hampir sama dengan kebiasaan kita mengusap minyak di dada untuk melegakan pernafasan. Kemasan yang diciptakan kini lebih praktis, modern, fashionable dalam bentuk kalung. Sehingga, dimana saja, kapan saja, kita dapat menghirup aromanya," jelas Fadjry.
Menurutnya, riset ini akan terus dilanjutkan dan bersinergi dengan lembaga lainnya. Ia berharap sinergi penelitian akan lebih memberikan kepercayaan publik pada inovasi, serta kontribusi bagi pandemi yang belum usai.
"DPD mempunyai program pengembangan potensi daerah, diharapkan dapat bersinergi dengan Kementan. Dia berharap hasil-hasil penelitian Litbang Kementan yang bisa disinergikan dengan daerah nantinya," tambahnya.
Terpisah, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan Fadjry Djufry mengatakan bahwa produk eucalyptus ini merupakan produk aksesoris aromaterapi berbasis minyak eucalyptus sp. dan didesain dengan teknologi nano dalam bentuk serbuk dan dikemas dalam kantong berpori. Produk ini mengeluarkan aroma secara lepas lambat (slow release), sehingga berfungsi sebagai aromaterapi selama jangka waktu tertentu.
Menurut Fadjry, penggunaannya dengan cara menghirup aroma yang keluar dari kemasannya, atau dengan menghirup langsung dari lubang-lubang kemasannya. "Jadi prinsip kerjanya hampir sama dengan kebiasaan kita mengusap minyak di dada untuk melegakan pernafasan. Kemasan yang diciptakan kini lebih praktis, modern, fashionable dalam bentuk kalung. Sehingga, dimana saja, kapan saja, kita dapat menghirup aromanya," jelas Fadjry.
Menurutnya, riset ini akan terus dilanjutkan dan bersinergi dengan lembaga lainnya. Ia berharap sinergi penelitian akan lebih memberikan kepercayaan publik pada inovasi, serta kontribusi bagi pandemi yang belum usai.
(fai)
Lihat Juga :