Kendaraan Listrik Bakal Dapat Insentif, Pengamat Energi: Jangan Lupakan BBG
Jum'at, 23 Desember 2022 - 14:59 WIB
loading...
Rencana pemberian insentif untuk kendaraan listrik, diharapkan tidak melupakan kendaraan dengan Bahan Bakar Gas (BBG) karena memiliki tujuan yang sama dan mendorong optimalisasi target bauran energi nasional. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Rencana pemberian insentif untuk pembelian kendaraan ramah lingkungan diharapkan membawa manfaat (benefit) yang besar bagi negara. Selain insentif kendaraan listrik , kendaraan dengan Bahan Bakar Gas (BBG) juga disarankan untuk mendapat dukungan serupa, karena memiliki tujuan yang sama dan mendorong optimalisasi target bauran energi nasional .
Pengamat Energi, Iwa Garniwa mengatakan, penggunaan energi terbarukan telah menjadi tuntutan global, termasuk di Indonesia. Maka wajar jika diperlukan insentif untuk merealisasikannya.
Baca Juga: Penggunaan BBG Bagi Transportasi Darat Bisa Menekan Biaya Logistik
Meski begitu, Indonesia perlu untuk memiliki program sendiri yang lebih tepat sasaran dan terukur. Menyesuaikan dengan potensi yang ada di dalam negeri serta mempertimbangkan kemampuan dan daya beli masyarakat.
”Tujuannya adalah ketahanan energi nasional yang didukung dengan kemandirian dan kedaulatan,” katanya.
Iwa yang merupakan profesor serta Guru Besar Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, menuju penggunaan kendaraan full listrik butuh tahapan. Terlebih ada sekitar 24 juta kendaraan roda empat serta sekitar 120 juta sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) yang perlu diperhatikan.
”Ketika kita langsung ke kendaraan listrik, itu semua mau diapakan? Jadi perlu transisi,” terangnya.
Baca Juga: Pasokan BBM dan BBG Saat Nataru 2023 Dijamin Aman, Ini Rinciannya
Pengamat Energi, Iwa Garniwa mengatakan, penggunaan energi terbarukan telah menjadi tuntutan global, termasuk di Indonesia. Maka wajar jika diperlukan insentif untuk merealisasikannya.
Baca Juga: Penggunaan BBG Bagi Transportasi Darat Bisa Menekan Biaya Logistik
Meski begitu, Indonesia perlu untuk memiliki program sendiri yang lebih tepat sasaran dan terukur. Menyesuaikan dengan potensi yang ada di dalam negeri serta mempertimbangkan kemampuan dan daya beli masyarakat.
”Tujuannya adalah ketahanan energi nasional yang didukung dengan kemandirian dan kedaulatan,” katanya.
Iwa yang merupakan profesor serta Guru Besar Fakultas Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI) ini menjelaskan, menuju penggunaan kendaraan full listrik butuh tahapan. Terlebih ada sekitar 24 juta kendaraan roda empat serta sekitar 120 juta sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) yang perlu diperhatikan.
”Ketika kita langsung ke kendaraan listrik, itu semua mau diapakan? Jadi perlu transisi,” terangnya.
Baca Juga: Pasokan BBM dan BBG Saat Nataru 2023 Dijamin Aman, Ini Rinciannya
Lihat Juga :