Bea Materai Bukan Satu-satunya Cara Genjot Pendapatan

Senin, 29 Juni 2015 - 22:21 WIB
Bea Materai Bukan Satu-satunya...
Bea Materai Bukan Satu-satunya Cara Genjot Pendapatan
A A A
JAKARTA - Pengamat properti dan ritel, Handaka Santosa mengatakan, tidak bisa dipungkiri pemerintah akan segera menetapkan bea materai untuk meraih pendapatan negara yang lebih besar. Namun, dia mengingatkan, bea materai ke objek yang sudah ditetapkan bukan satu-satunya cara memperoleh pendapatan besar.

"Pemerintah tujuannya apa sih membuat UU Bea Materai? Mendapatkan keuntungan yang lebih gede kan? Tapi, sebetulnya ada yang lebih bisa dilakukan daripada penetapan bea materai. Misalnya, bisa saja kan jika omzet perusahaan besar, maka kewajiban pajak yang dibayar pun akan lebih besar," jelas Handaka kepada Sindonews di Jakarta, Senin (29/6/2015)

Dia menuturkan, jika hal tersebut dilakukan otomatis Biaya Perolehan Atas Tanah dan Bangunan (BPATB) akan lebih besar. Kemudian, untuk pajak penjualan barang mewah juga itu sebenarnya bisa dikaji ulang.

"Pajak penjualan barang mewah, semuanya kan bisa meningkat apabila ada transaksi yang besar. Itu saja dulu," jelasnya. (Baca: Penerapan Bea Materai dalam Transaksi Bebani Ekonomi)

Handaka menegaskan, dirinya bukan tidak setuju dengan bea materai yang pada akhirnya ditujukan untuk properti dan ritel. Namun, pemerintah hendaknya membuat kegiatan yang menghasilkan income yang targetnya adalah perusahaan.

"Saya bukannya enggak setuju tentang adanya bea materai, saya tahu pemerintah butuh uang. Tapi, dengan butuh uang ini, seharusnya perusahaan-perusahaan ini dibikin kegiatan yang banyak, kemudian berincome. Sehingga, pajaknya lebih naik," tegasnya.

Seperti tahun lalu, kenangnya, ketika pemerintah menghapuskan pajak penjualan barang mewah (PPN), sehingga penjualan meningkat. "Ini mesti lebih jelas dulu, dibebankan ke siapa? Jangan sampai sudah terbebani, tapi salah sasaran," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, selain objek pasar saham dan properti, transaksi ritel kelak juga tidak akan luput dari bea meterai. Adapun transaksi ritel yang akan kena bea meterai adalah transaksi belanja di atas Rp250.000. Besaran bea meterai untuk transaksi ritel akan diatur dalam peraturan pemerintah.

Jika transaksi ritel masuk, objek bea meterai bertambah. Sebelumnya, sesuai UU No 13 tahun 1985, bea meterai hanya berlaku untuk surat perjanjian sebagai pembuktian, akta notaris, dan akta yang dibuat pejabat pembuat akta tanah.

Baca juga:

Siap-siap Bea Materai Akan Naik Juni 2015

Tujuh Kesepakatan Pemerintah dan DPR Terkait Pajak

Pemeritah Harus Hati-hati dalam Liberalisasi Ekonomi
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Mulai 2021 Ditjen Pajak...
Mulai 2021 Ditjen Pajak Akan Berlakukan Bea Materai Rp10.000
Mulai 1 Januari 2021...
Mulai 1 Januari 2021 Transaksi Saham Bakal Kena Biaya Materai, Segini Tarifnya
Tarif Baru Bea Materai...
Tarif Baru Bea Materai Dirilis Pekan Depan, Segini Besarannya
Sepakat, RUU Bea Materai...
Sepakat, RUU Bea Materai Dibawa ke Paripurna
Sindikat Pemalsuan Meterai...
Sindikat Pemalsuan Meterai Terbongkar, Ini Cara Bedakan Meterai Asli dan Palsu
Ribuan Materai Palsu...
Ribuan Materai Palsu Beredar Luas di Jabodetabek
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
6 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
7 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
7 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
7 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
7 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
7 jam yang lalu
Infografis
10 Kapolda Lulusan Akpol...
10 Kapolda Lulusan Akpol 1994, Teman Satu Angkatan Kepala BNN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved