Pertamina: Harga Minyak Melorot, PHK Jadi Pilihan Terakhir
Sabtu, 30 Januari 2016 - 14:12 WIB
Pertamina: Harga Minyak Melorot, PHK Jadi Pilihan Terakhir
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) mengemukakan, anjloknya harga minyak dunia hingga ke level di bawah USD30 per barel turut berdampak pada kinerja perseroan. Pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan pun menjadi salah satu pilihan, namun tetap akan menjadi opsi terakhir jika melorotnya harga minyak dunia ini semakin membebani Pertamina.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menuturkan, pihaknya telah bekerja keras merumuskan strategi untuk bisa tetap bertahan di tengah gempuran harga minyak. Saat ini, yang akan dilakukan BUMN migas ini untuk tetap bertahan adalah dengan melakukan efisiensi proses bisnis dan menekan biaya operasional.
"Yang sudah kami identifikasi adalah 25% tapi kami menargetkan upaya menekan biaya sebesar 30%. Artinya efisiensi harus menurunkan biaya sebesar 30%," katanya di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Sabtu (30/1/2016).
Jika langkah efisiensi dari proses bisnis masih juga belum membantu perseroan untuk bertahan di tengah penurunan harga minyak ini, sambung Dwi, pihaknya akan beranjak pada opsi kedua yaitu dengan menurunkan pendapatan perseroan.
"Kalau langkah dari sisi efisiensi di proses bisnis ini masih kurang, kami akan masuk kepada masalah menurunkan pendapatan dsb. Sebelum yang terakhir pengurangan tenaga kerja," imbuh dia.
Mantan Bos Semen Indonesia ini meyakini masih banyak peluang di sektor efisiensi proses bisnis. Karena itu, untuk saat ini pihaknya akan fokus pada upaya efisiensi proses bisnis dengan merenegosiasi penggunaan jasa yang selama ini banyak dilakukan Pertamina.
"Penggunaan jasa harus kita evaluasi, kita renegosiasi untuk kita sama-sama baik di penyedia jasa atau di Pertamina sendiri bisa survive. Jadi kami akan fokus untuk menekan biaya operasi dulu. Cutting cost 30%. Itu targetnya, jadi disitu di level harga minyak USD30 per barel itu kami hitung masih survive," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) mengungkapkan anjloknya harga minyak dunia hingga di kisaran USD30/barel, level terendah sejak 2004 berdampak besar terhadap perusahaan minyak dan gas (migas).
Hal ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan minyak di dunia mengalami kerugian dan terancam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Di Indonesia diperkirakan sebanyak 300 ribu buruh migas terkena PHK.
Presiden KSBSI Mudhofir Khamid mengemukakan, anjloknya harga minyak dunia disebabkan berbagai hal, antara lain kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menjaga harga minyak rendah akibat dari politik luar negeri Amerika di Timur Tengah, yang menyebabkan produksi minyak berlebihan.
"Hal lain adalah akibat perlambatan perekonomian di China yang membuat minyak mengalami over suplai dan harga minyak semakin tertekan mengingat negara tersebut merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia," ujar Mudhofir, dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menuturkan, pihaknya telah bekerja keras merumuskan strategi untuk bisa tetap bertahan di tengah gempuran harga minyak. Saat ini, yang akan dilakukan BUMN migas ini untuk tetap bertahan adalah dengan melakukan efisiensi proses bisnis dan menekan biaya operasional.
"Yang sudah kami identifikasi adalah 25% tapi kami menargetkan upaya menekan biaya sebesar 30%. Artinya efisiensi harus menurunkan biaya sebesar 30%," katanya di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Sabtu (30/1/2016).
Jika langkah efisiensi dari proses bisnis masih juga belum membantu perseroan untuk bertahan di tengah penurunan harga minyak ini, sambung Dwi, pihaknya akan beranjak pada opsi kedua yaitu dengan menurunkan pendapatan perseroan.
"Kalau langkah dari sisi efisiensi di proses bisnis ini masih kurang, kami akan masuk kepada masalah menurunkan pendapatan dsb. Sebelum yang terakhir pengurangan tenaga kerja," imbuh dia.
Mantan Bos Semen Indonesia ini meyakini masih banyak peluang di sektor efisiensi proses bisnis. Karena itu, untuk saat ini pihaknya akan fokus pada upaya efisiensi proses bisnis dengan merenegosiasi penggunaan jasa yang selama ini banyak dilakukan Pertamina.
"Penggunaan jasa harus kita evaluasi, kita renegosiasi untuk kita sama-sama baik di penyedia jasa atau di Pertamina sendiri bisa survive. Jadi kami akan fokus untuk menekan biaya operasi dulu. Cutting cost 30%. Itu targetnya, jadi disitu di level harga minyak USD30 per barel itu kami hitung masih survive," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) mengungkapkan anjloknya harga minyak dunia hingga di kisaran USD30/barel, level terendah sejak 2004 berdampak besar terhadap perusahaan minyak dan gas (migas).
Hal ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan minyak di dunia mengalami kerugian dan terancam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Di Indonesia diperkirakan sebanyak 300 ribu buruh migas terkena PHK.
Presiden KSBSI Mudhofir Khamid mengemukakan, anjloknya harga minyak dunia disebabkan berbagai hal, antara lain kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menjaga harga minyak rendah akibat dari politik luar negeri Amerika di Timur Tengah, yang menyebabkan produksi minyak berlebihan.
"Hal lain adalah akibat perlambatan perekonomian di China yang membuat minyak mengalami over suplai dan harga minyak semakin tertekan mengingat negara tersebut merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia," ujar Mudhofir, dalam keterangan tertulisnya kepada Sindonews.
(dol)
Lihat Juga :