Peternak Protes Impor Daging Berbasis Zona

Jum'at, 18 Maret 2016 - 19:01 WIB
Peternak Protes Impor...
Peternak Protes Impor Daging Berbasis Zona
A A A
JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) berencana impor daging dari India, dengan menyiapkan peraturan yang merupakan turunan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 4 tahun 2016 yang mengubah basis impor daging dari negara (country base) menjadi zona (zone base). Namun rencana pemerintah tersebut langsung mendapatkan penolakan dari beberapa kalangan termasuk peternak lokal.

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), Firman Subagyo mengungkapkan, untuk meminimalkan persoalan daging yang selama ini terjadi di Indonesia, pemerintah diminta untuk fokus menentukan arah kebijakan, apakah rencana swasembada pemerintah fokus terhadap daging atau sapi.

Menurunya pembahasan mengenai perlu tidaknya zona base pemasukan ternak sudah mengemuka, namun hingga akhir tahun lalu belum membuahkan solusi yang kongkrit bagi pemerintah. “Kalau lihat persoalnnya hanya berkisar harga daging kenapa mahal, kedua konsumsi masyarakat naik,” ujar dia dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat, (18/3/2016)

Untuk itu, dirinya meminta pemerintah dapat segera menyiapkan dan menyusun grand desain atau blue print yang mengatur mengenai persoalan daging nasional, sehingga persoalan daging sapi tidak muncul dikemudian hari. “PP ini perlu dikaji jangan sampai ada pasal-pasal yang bertentangan dengan UU kalau ini dilanggar nanti ada persoalan baru," tukasnya.

Sementara itu peternak asal Jogjakarta yang juga CEO and Founder Bhumi Andhini Farm and Education, llham Akhmadi menolak penerapan PP tersebut. "PP ini imbasnya luar biasa, baik psikologis maupun ekonomi. Kita bangun ternak di lapangan itu sulitnya luar biasa, harus hancur gara-gara itu, jelas kami menolak," jelasnya

Menurut Ilham, rencana masuknya daging ternak dari India dan negara lainnya sebagai konsekuensi penerapan PP zona base oleh pemerintah tersebut, dianggap sangat berisiko terhadap nasib peternak lokal. Selain harga yang sangat murah, daging yang mereka jual belum dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan kuku yang saat ini tengah marak.

"Arahnya ini mau ke mana, konsistensi kebijakan pemeritah sangat tidak jelas, saya menolak ini (PP zona Base) karena hanya sifatnya pemadam kebakaran sesaat. Saya minta mohon kaji ulang kebijakan itu sebab dampaknya akan terasa langsung buat kami," pungkasnya.

Sebagai informasi Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 4 Tahun 2016 tentang perluasan asal pemasukan daging dan ternak dari negara yang belum bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) namun memiliki zona bebas tersebut. Dengan begitu, pilihan impor daging ternak baik sapi maupun kerbau bagi Indonesia semakin luas, hingga India.

Pasalnya dengan basis zona, negara yang belum sepenuhnya bebas dari penyakit kuku dan mulut pun bisa mengirim daging ke Indonesia, asal daging tersebut berasal dari kawasan (zona) yang bebas dari penyakit. Tujuan Pemerintah membuka keran impor lebih luas yakni untuk menurunkan harga daging sapi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Tak Perlu Khawatir Bakal...
Tak Perlu Khawatir Bakal Langka, Berikut 5 Olahan Daging Sapi yang Bisa Disimpan Lama
Siap-siap! RI Akan Impor...
Siap-siap! RI Akan Impor Daging Sapi dari Meksiko
Pedagang Daging Masih...
Pedagang Daging Masih Ada yang Mogok, Jappdi Ungkap Alasannya
5 Ide Olahan Daging...
5 Ide Olahan Daging Sapi Kurban yang Mudah Dibuat di Rumah, Praktis dan Lezat
Catat! Mulai 28 Februari,...
Catat! Mulai 28 Februari, Pedagang Daging Bakal Mogok Jualan
Stok Daging Surplus,...
Stok Daging Surplus, Kementan: Mestinya Harga Tidak Naik
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
4 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
4 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
4 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
6 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
6 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
6 jam yang lalu
Infografis
Balas Dendam ke AS,...
Balas Dendam ke AS, China Naikkan Tarif Impor Jadi 125%
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved