Tanggapan Jokowi Banyaknya Penolakan Proyek Kereta Cepat

Rabu, 30 Maret 2016 - 22:27 WIB
Tanggapan Jokowi Banyaknya...
Tanggapan Jokowi Banyaknya Penolakan Proyek Kereta Cepat
A A A
JAKARTA - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sejak awal telah memulai pembangunan proyek infrastruktur, dari proyek mass rapid transit (MRT), kereta api cepat (high speed train/HST), jalan tol, hingga proyek listrik 35.000 MW. Namun, belum rampung proyek tersebut dikerjakan, berbagai penolakan terus bermunculan.

Jokowi menilai, masyarakat Indonesia terlalu pesimistis terhadap pemerintah. Dia bercerita, saat melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) MRT, masyarakat di depan telah berbondong-bondong membuat spanduk yang berisi penolakan.

"‎Kita ramai dulu baru kejadian. Waktu MRT di-groundbreaking, saya baru ngomong dengan mengucap bismillah, proyek MRT dimulai. Depan saya berbondong-bondong spanduk dibuka berisi penolakan. Belum digali sudah ditolak. Kalau kita enggak mulai ya enggak akan dimulai," katanya di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (30/3/2016).

Selain itu, kereta cepat yang baru saja dimulai pengerjaannya juga tak kalah banyak mendapat penolakan. Padahal, niat pemerintah membangun kereta cepat tersebut untuk mengurai kemacetan yang telah merugikan Indonesia sekitar Rp35 triliun dalam satu tahun.

"Saya enggak ada urusan teknis kereta cepatnya, tapi kalkulasi makro negaranya. Kalau enggak dibangun akan hilang terus.‎ Di China itu delapan tahun bisa bangun 16.000 km kereta cepat, berarti setiap tahun 2.000 km. Kita baru mau bangun 150 km, ramainya sudah kayak gini," imbuh dia.

Mantan Wali kota Solo ini melanjutkan, saat pemerintah membangun jalan tol juga mendapat penolakan. Padahal, sejak 70 tahun merdeka Indonesia hanya membangun 840 km jalan tol, sementara di Negeri Tirai Bambu telah ada 60.000 km. "Saya beri target lima tahun (bangun jalan tol) 1.100 km saja sudah banyak yang enggak percaya. Lima tahun lho," tuturnya.

Jokowi menambahkan, proyek kelistrikan 35.000 MW yang menjadi proyek andalan pemerintahan Jokowi untuk mengatasi krisis listrik di Tanah Air juga mendapat banyak keraguan dari masyarakat. Alasannya, karena dalam 70 tahun Indonesia hanya mampu menghasilkan listrik 53.000 MW.

"Kok banyak enggak percaya sih, pesimis sekali kita ini. ‎Karena dalam 70 tahun hanya dapat 53.000 mw, kok 5 tahun bisa 35.000 mw. Kalau saya caranya gimana itu bisa masuk akal, problemnya izin sama pembebasan lahan itu diselesaikan‎," tandas dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Utang Whoosh: Menata...
Utang Whoosh: Menata Ulang Ambisi Infrastruktur Nasional
5 Proyek Infrastruktur...
5 Proyek Infrastruktur Kereta Api Termahal di Dunia, China Terbanyak
3 Tunnel Trase Kereta...
3 Tunnel Trase Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sudah Tembus
Dirut PLN: 90% Infrastruktur...
Dirut PLN: 90% Infrastruktur Listrik Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sudah Siap
Bangun Ulang Tiang yang...
Bangun Ulang Tiang yang Roboh, KCIC Beberkan Progres Kereta Cepat Hampir 80%
Mengintip Investasi...
Mengintip Investasi China di Sektor Infrastruktur, Salah Satunya Proyek Kereta Cepat
Berita Terkini
1.500 Buruh Bakal Geruduk...
1.500 Buruh Bakal Geruduk Kemenkeu Desak Penghapusan Pajak JHT, Ini 4 Tuntutan Utama
19 menit yang lalu
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
1 jam yang lalu
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
1 jam yang lalu
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
2 jam yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
3 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
3 jam yang lalu
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved