Wacana Kemasan Rokok Polos Dinilai Rugikan Konsumen

Jum'at, 03 Juni 2016 - 17:03 WIB
Wacana Kemasan Rokok...
Wacana Kemasan Rokok Polos Dinilai Rugikan Konsumen
A A A
JAKARTA - Ketua Umum Komunitas Perokok Bijak Jakarta, Suryokoco menilai wacana kemasan polos produk tembakau di Indonesia yang digulirkan Kementerian Kesehatan sangat merugikan industri hasil tembakau (IHT) nasional.

Apalagi, Indonesia saat ini sedang melakukan tuntutan kebijakan kemasan polos Australia di World Trade Organization (WTO) karena melanggar ketentuan perjanjian internasional.

"Tapi pada saat yang sama, Kementerian Kesehatan mewacanakan kebijakan ekstrem serupa. Bagi perokok, kemasan polos merupakan pelanggaran hak konsumen untuk mendapatkan informasi produsen dan kualitas produk," katanya seperti dalam rilis di Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Menurutnya, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan kebijakan kemasan polos di Australia berhasil menurunkan angka perokok di negara tersebut. Bahkan yang terjadi, peningkatan jumlah rokok ilegal yang merugikan konsumen karena mendapatkan rokok palsu dan merugikan negara karena tidak membayar cukai.

"Peringatan kesehatan bergambar yang telah diterapkan di Indonesia sudah cukup efektif dalam menginformasikan masyarakat risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok, dan cukup mengganggu kenikmatan perokok," imbuh dia.

Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Subagyo, meminta pemerintah tidak terburu-buru meratifikasi FCTC. ‎Menurutnya, perdebatan soal rokok maupun produk tembakau bukan sekadar argumentasi teknis medis yang bebas nilai tentang sehat dan tidak sehat.

"Ihwal ini sudah memasuki ranah persaingan bisnis korporasi yang dilakukan para pemain industri farmasi,” ungkapnya.

Firman menilai, industri rokok kretek masih dianggap penting oleh pemerintah. Secara nasional, industri hasil tembakau menyerap 6 juta tenaga kerja dengan kontribusi sebesar Rp139,5 triliun melalui cukai atau 9,5% dari total penerimaan negara pada tahun lalu.

Sekadar informasi, kebijakan kemasan polos rokok merupakan salah satu pedoman dari Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC) yang diinisiasi World Health Organisation (WHO).

Dalam FCTC terdapat beberapa pedoman ekstrim seperti pelarangan penggunaan cengkih dalam rokok, pengalihan lahan tembakau, dan pelarangan pemajangan rokok di tempat penjualan. Indonesia belum menjadi bagian dari FCTC namun desakan kepada Pemerintah untuk segera meratifikasi konvensi internasional tersebut sangat tinggi khususnya dari LSM anti-tembakau.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Perlunya Deregulasi...
Perlunya Deregulasi Aturan IHT demi Wujudkan Indonesia Incorporated
Serikat Pekerja Minta...
Serikat Pekerja Minta Tidak Ada Kenaikan Cukai untuk Sigaret Kretek Tangan
Cukai Rokok Naik, Petani...
Cukai Rokok Naik, Petani Tembakau Makin Menderita
Produksi Tembakau Olahan...
Produksi Tembakau Olahan Diproyeksikan Merosot 16%
Keki Cukai Rokok Naik,...
Keki Cukai Rokok Naik, KNPK: Sekalian Saja Ilegalkan
Mau Jadi Perokok di...
Mau Jadi Perokok di RI, Siap-siap Rogoh Kocek Sangat Dalam
Berita Terkini
Daftar Lengkap Harga...
Daftar Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini usai Malas Bergerak di Rp2,6 Juta per Gram
16 menit yang lalu
Dulu Termiskin, Negara...
Dulu Termiskin, Negara Kecil Ini Mendadak Jadi Raja Minyak Baru Akibat Perang Iran!
35 menit yang lalu
Tekanan Jual Mulai Terkendali,...
Tekanan Jual Mulai Terkendali, IHSG Berpeluang Lanjutkan Rebound ke 6.000-6.050
1 jam yang lalu
Babak Baru Perang Energi:...
Babak Baru Perang Energi: OPEC+ Siap Banjiri Pasar Global, Siap-siap Harga Minyak Makin Ambles
3 jam yang lalu
Lompatan Sang Anak Bawang,...
Lompatan Sang 'Anak Bawang', Rahasia Sukses Vietnam Naik Kelas Jadi Berpendapatan Menengah Atas
9 jam yang lalu
TBS Foundation Dukung...
TBS Foundation Dukung Penanganan Kesehatan Warga Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin
12 jam yang lalu
Infografis
6 Produk Buatan China...
6 Produk Buatan China yang Digemari Konsumen Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved