Pengusaha Properti Masih Keluhkan Perizinan Berbelit

Selasa, 06 September 2016 - 14:53 WIB
Pengusaha Properti Masih...
Pengusaha Properti Masih Keluhkan Perizinan Berbelit
A A A
YOGYAKARTA - Pengusaha properti yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) Yogyakarta mengaku masih menemui hambatan dalam perizinan sehingga membuat daya serap perumahan dan properti lainnya menurun. Selain itu perlambatan ekonomi yang terjadi belakangan ini turur memperparah daya beli masyarakat.

Wakil Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI Yogyakarta Bidang Humas Ilham Nur Muhamad mengatakan, kondisi tersebut dampaknya sangat terasa bagi pengembang yang tergabung dalam REI. "Kondisi ekonomi memang tidak bisa dihindarkan dalam bisnis ini," tuturnya.

Lebih lanjut dia menerangkan halangan lain bagi industri properti adalah rantai perizinan yang masih terlalu panjang untuk ditempuh. Akibatnya cukup membuang energi baik dari sisi waktu dan juga biaya. Hal ini tentu terimbas kepada biaya produksi dari industri perumahan cukup tinggi di samping biaya pokok untuk bangunan itu sendiri.

Ilham menerangkan seharusnya pemerintah membuat penyederhanaan pengurusan izin pendirian perumahan tersebut menjadi lebih pendek. Karena dia menilai, sebenarnya ada beberapa rantai perizinan yang bisa dijadikan satu dengan jenis perizinan lain, sehingga waktu pengurusan bisa dipangkas dan biayanya lebih murah lagi.

"Kalau berbelit seperti sekarang ini, endingnya menjadikan biaya tinggi sehingga harga jual rumah juga tinggi," tuturnya.

Jika bisa disederhanakan, lanjutnya, para pengembang akan menekan harga jual dari produk yang mereka hasilkan. Dengan demikian, rumah yang mereka jual akan semakin terjangkau bagi masyarakat. Dia sendiri mengakui saat ini harganya memang masih cukup tinggi, dii tengah kondisi perlambatan ekonomi.

Menurutnya sektor biaya yang bisa ditekan adalah dari sisi perizinan, karena untuk menekan harga dari sisi lain sudah tidak mungkin lagi. Dari sisi bahan bangunan, adalah hal yang mustahil karena mereka memiliki standar komposisi bahan untuk mendirikan bangunan.

Dari sisi pengadaan lahan, tidak mungkin lagi karena harga tanah di wilayah DIY sudah sangat tinggi. "Di Yogyakarta harga tanah memang sudah gila," terangnya.

Sementara Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Yogyakarta Hilman Tisnawan mengakui, laju pertumbuhan industri properti di DIY memang mengalami hambatan. Salah satu yang tertinggi adalah karena faktor harga tanah yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Pihaknya bahkan mencatat, kenaikan harga properti tahun ini tidak banyak terjadi. "Sebelumnya harga sudah tinggi. Pengembang masih berpikir ketika ingin menaikkan harga lagi," tuturnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kontribusi Industri...
Kontribusi Industri Properti Terhadap PDB
Re/Max Solusi Ajak Generasi...
Re/Max Solusi Ajak Generasi Muda Terlibat dan Investasi Properti
Pasar Properti Membaik,...
Pasar Properti Membaik, Industri Pendukung Properti Lakukan Ekspansi
Sektor Properti Bangkit...
Sektor Properti Bangkit di 2025, Program 3 Juta Rumah Jadi Pendorong
Industri Properti Berikan...
Industri Properti Berikan Dampak Positif ke Pasar Gipsum
Dana Kurang, Tak Ada...
Dana Kurang, Tak Ada Salahnya Pakai Konsep Rumah Tumbuh
Berita Terkini
Hasilkan Riset Berkelanjutan,...
Hasilkan Riset Berkelanjutan, Kayla Raih Pendanaan Global Youth Action Fund
4 jam yang lalu
Potensi Tambahan Penerimaan...
Potensi Tambahan Penerimaan Negara dari DSI Masih Dihitung, Purbaya: Belum Ketemu Angkanya
5 jam yang lalu
BRImo Raih Penghargaan...
BRImo Raih Penghargaan Digital Innovation in Business Transformation di Ajang Digital Innovation Awards 2026
5 jam yang lalu
Atasi Kebocoran Data...
Atasi Kebocoran Data Ekspor, Mahfud MD Dorong Penguatan PT DSI
5 jam yang lalu
Tok! Eksportir SDA Wajib...
Tok! Eksportir SDA Wajib Pulangkan 100% Devisa Hasil Ekspor ke Dalam Negeri Mulai Juni 2026
9 jam yang lalu
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi...
BUMN Ekspor Resmi Beroperasi Besok 1 Juni 2026! Terbagi 2 Fase, Eksportir Wajib Lapor DSI
9 jam yang lalu
Infografis
15 PTN Masih Buka Jalur...
15 PTN Masih Buka Jalur Mandiri 2025, Kesempatan Kedua yang Gagal SNBT
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved