Indonesia Untung AS Hengkang dari TPP

Kamis, 26 Januari 2017 - 15:37 WIB
Indonesia Untung AS...
Indonesia Untung AS Hengkang dari TPP
A A A
JAKARTA - Kepala Ekonom Treasury & Capital Market CIMB Niaga Adrian Panggabean menilai, keputusan Presiden AS Donald Trump hengkang dari blok kerja sama lintas pasifik (Trans Pacific Partnership/TPP) perlu disikapi positif oleh Indonesia. Hengkanya AS dari TPP justru dapat menjadi keuntungan bagi perdagangan di Tanah Air.

(Baca: Trump Teken Perintah AS Resmi Keluar dari TPP)

Vietnam merupakan salah satu negara di ASEAN yang menandatangani kerja sama TPP bersama 11 negara lain termasuk AS di Selandia Baru pada 14 Februari 2016. Total anggota yang menandatangani perjanian TPP ada 12 negara yaitu Australia, Brunei, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Amerika Serikat dan Vietnam.

Dia mengungkapkan, TPP sebelumnya dijadikan senjata oleh Vietnam untuk mengalahkan produk ekspor Indonesia ke AS. Sebab, dengan menjadi anggota maka produk Vietnam yang akan masuk ke AS tidak dikenakan bea masuk.

Negara anggota TPP akan mendapatkan fasilitas perdagangan cukup menjanjikan yakni penghapusan semua tarif perdagangan. "Yang diuntungkan dari TPP mungkin negara seperti Vietnam. Karena dalam global value chance-nya, Vietnam diuntungkan," kata dia di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (26/1/2017).

Dengan hengkangnya AS dari TPP, maka insentif yang dinikmati Vietnam selama ini sudah tidak berlaku lagi. Produk dari Vietnam yang akan masuk ke AS akan dikenakan bea masuk yang sama dengan produk dari Indonesia.

"Dengan tarik dirinya AS dari TPP mungkin Indonesia malah diuntungkan. Karena global value chance yang menguntungkan Vietnam sekarang mungkin menguntungkan Indonesia," imbuhnya.

Terlepas dari hal itu, Adrian menuturkan, sejatinya janji-janji politik yang disampaikan Trump dalam pidato kampanyenya akan sulit direalisasikan seluruhnya. Sebab, akan ada benturan-benturan yang menyebabkan kebijakan tersebut sulit untuk diimplementasikan.

"Ada probabilita di mana beberapa janji politiknya akan sulit direalisasikan. Misalnya membawa manufaktur AS akan sulit. Karena faktor yang disampaikan tadi misalnya dolar terlampau kuat, tenaga kerja enggak ada, ekosistem enggak ada," tuturnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bersama Jo Hyundai,...
Bersama Jo Hyundai, Rekind Lolos Tender Proyek TPPI Olefin Complex
Proses Lelang Kilang...
Proses Lelang Kilang Olefin Siap Ditelusuri Oleh BPK
Ratusan Pengusaha Indonesia...
Ratusan Pengusaha Indonesia Gali Peluang Perdagangan lewat RCEP
CERI Soroti Kompetensi...
CERI Soroti Kompetensi Bidder Proyek Olefin TPPI di Tuban
China Kirim Proposal...
China Kirim Proposal Minta Gabung Perjanjian Dagang Trans-Pasifik
Pak Ahok, Ada yang Minta...
Pak Ahok, Ada yang Minta Tolong Usut Kejanggalan Tender Kilang Olefin Nih
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
7 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
7 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
8 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
8 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
9 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
9 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved