Produk Investasi Baru Diluncurkan Standard Chartered Bank

Jum'at, 17 Februari 2017 - 02:13 WIB
Produk Investasi Baru...
Produk Investasi Baru Diluncurkan Standard Chartered Bank
A A A
BANDUNG - Standard Chartered Bank meluncurkan produk investasi baru, Fund Focus, yang menjadi alternatif investasi tambahan bagi para nasabahnya. Fund Focus merupakan katolog investasi bagi nasabah untuk mengetahui kinerja atau protofolio emiten reksadana sebelum memulai investasi di tahun 2017.

Executive Director dan Country Head of Weath Management Standard Chartered Bank Bambang Simon Simarno mengatakan, Fund Focus dibuat berdasarkan riset kualitatif dan kuantitatif internal dengan melihat performance, pelaku dan proses investasi dengan melihat potensi perekonomian Indonesia tahun ini.

“Kami ingin membantu nasabah memahami karakter kunci investasi fund manager. Sebab kinerja masa lalu sebuah eminten reksadana saham bukan menjadi jaminan di masa mendatang,” katanya saat acara Wealth-on-Wealth (WOW) di Hotel Hilton, Kamis (16/2).

Lebih lanjut dia menerangkan, brosur ini juga mengevaluasi kualitas manajer portofolio, dalam analisisnya juga mengevaluasi secara seksama ide investasi, eksposur dan manajemen likuiditas dan fund manager. Brosur itu diterangkan memberikan contoh jika imbal hasil produk investasi dari tahun-ketahun selalu berubah.

Tahun 2014 sebagian besar imbal hasil reksa dana cukup tinggi, bahkan hingga mencapai 30%. Namun tahun 2015 justru anjlok bahkan cenderung negatif. Tahun 2016, imbal hasil reksa dana kembali membaik namun belum kembali seperti tahun 2014.

Menurutnya tahun 2016 imbal hasil reksa dana saham kembali positif setelah membaiknya sejumlah komoditas ekspor, khususnya batu bara dan harga minyak. Tahun ini menurutnya imbal hasil reksadana saham akan kembali membaik dibandingkan tahun 2016.

“Kondisi itu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal tentunya kondisi salam negeri saat ini yang masih kental oleh gangguan politik, khususnya Pilkada atau pemilihan kepala daerah. Faktor eksternal yang paling dominan adalah kebijakan dari Presiden AS Donald Trump yang dianggap lebih banyak berefek negatif bagi Indonesia. Masih ada ketidakpastian disana,” paparnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Untuk Pertama Kali Acara...
Untuk Pertama Kali Acara Tahunan 'WOW' Diadakan Virtual
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi Digital dalam Pengelolaan Keuangan Korporasi
PRUFast Permudah Masyarakat...
PRUFast Permudah Masyarakat Mengakses Perencanaan Pensiun
Bidik Nasabah Mapan,...
Bidik Nasabah Mapan, Perusahaan Asuransi Gandeng Perbankan
Standard Chartered Uji...
Standard Chartered Uji Agunan Kripto dengan OKX
Survei Stanchart: Gara-gara...
Survei Stanchart: Gara-gara Corona Penghasilan 50% Warga RI Drop
Berita Terkini
Aturan Baru ESDM, Blending...
Aturan Baru ESDM, Blending Batu Bara Harus Dapat Restu Bahlil
36 menit yang lalu
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan 5,46 Juta Penumpang Libur Sekolah, InJourney Airports Hadirkan Fasilitas Ramah Keluarga
39 menit yang lalu
IHSG Berakhir di Zona...
IHSG Berakhir di Zona Merah Sentuh 6.172, Transaksi Bursa Cetak Rp17,8 Triliun
59 menit yang lalu
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Tertipu, Waspadai Contoh Modus Investasi Ilegal Ini
1 jam yang lalu
Jangan Lewatkan! Kejar...
Jangan Lewatkan! Kejar Promo Rumah, Kendaraan, & Liburan di BRI Consumer Expo 2026 Makassar
1 jam yang lalu
BI Tancap Gas, Suku...
BI Tancap Gas, Suku Bunga Acuan Kembali Naik 25 Bps ke Level 5,75%
2 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved