alexametrics

Produk Investasi Baru Diluncurkan Standard Chartered Bank

loading...
Produk Investasi Baru Diluncurkan Standard Chartered Bank
Produk Investasi Baru Diluncurkan Standard Chartered Bank
A+ A-
BANDUNG - Standard Chartered Bank meluncurkan produk investasi baru, Fund Focus, yang menjadi alternatif investasi tambahan bagi para nasabahnya. Fund Focus merupakan katolog investasi bagi nasabah untuk mengetahui kinerja atau protofolio emiten reksadana sebelum memulai investasi di tahun 2017.

Executive Director dan Country Head of Weath Management Standard Chartered Bank Bambang Simon Simarno mengatakan, Fund Focus dibuat berdasarkan riset kualitatif dan kuantitatif internal dengan melihat performance, pelaku dan proses investasi dengan melihat potensi perekonomian Indonesia tahun ini.

“Kami ingin membantu nasabah memahami karakter kunci investasi fund manager. Sebab kinerja masa lalu sebuah eminten reksadana saham bukan menjadi jaminan di masa mendatang,” katanya saat acara Wealth-on-Wealth (WOW) di Hotel Hilton, Kamis (16/2).



Lebih lanjut dia menerangkan, brosur ini juga mengevaluasi kualitas manajer portofolio, dalam analisisnya juga mengevaluasi secara seksama ide investasi, eksposur dan manajemen likuiditas dan fund manager. Brosur itu diterangkan memberikan contoh jika imbal hasil produk investasi dari tahun-ketahun selalu berubah.

Tahun 2014 sebagian besar imbal hasil reksa dana cukup tinggi, bahkan hingga mencapai 30%. Namun tahun 2015 justru anjlok bahkan cenderung negatif. Tahun 2016, imbal hasil reksa dana kembali membaik namun belum kembali seperti tahun 2014.

Menurutnya tahun 2016 imbal hasil reksa dana saham kembali positif setelah membaiknya sejumlah komoditas ekspor, khususnya batu bara dan harga minyak. Tahun ini menurutnya imbal hasil reksadana saham akan kembali membaik dibandingkan tahun 2016.

“Kondisi itu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal tentunya kondisi salam negeri saat ini yang masih kental oleh gangguan politik, khususnya Pilkada atau pemilihan kepala daerah. Faktor eksternal yang paling dominan adalah kebijakan dari Presiden AS Donald Trump yang dianggap lebih banyak berefek negatif bagi Indonesia. Masih ada ketidakpastian disana,” paparnya.
(akr)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top