Rupiah Pulang Melemah, Dolar Perkasa Akibat Tertekannya Euro

Selasa, 30 Mei 2017 - 17:39 WIB
Rupiah Pulang Melemah,...
Rupiah Pulang Melemah, Dolar Perkasa Akibat Tertekannya Euro
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Rupiah di indeks Bloomberg pada penutupan perdagangan Selasa (30/5/2017) turun 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.323 per USD dibanding Senin lalu di Rp13.320 per USD.

Pagi tadi, mata uang NKRI dibuka turun 16 poin atau 0,12% ke Rp13.336 per USD. Dan sepanjang hari ini diperdagangkan di Rp13.309-Rp13.342 per USD.

Data Yahoo Finance, rupiah pada petang ini ditutup turun 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.323 per USD dibanding penutupan kemarin di Rp13.318 per USD. Awal perdagangan, rupiah dibuka tergerus 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.333 per USD, dan sepanjang hari ini diperdagangkan di kisaran Rp13.311-Rp13.344 per USD.

Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, rupiah hari ini ditutup di level Rp13.323 per USD alias stagnan seperti awal pembukaan.

Rupiah tertekan oleh menguatnya dolar AS, bersamaan dengan mayoritas kurs di Asia dan tekanan di pasar saham. Kondisi geopolitik di Eropa membuat USD berkibar pada awal pekan ini. Mengutip dari Reuters, Selasa (30/5), kekhawatiran politik di Yunani, Italia, dan Inggris telah membuat mata uang euro terseret oleh USD.

Indeks USD yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,2% ke 97,707 DXY. Euro bergerak turun ke USD1,1119 melawan dolar, akibat bailout Yunani, dimana mereka menolak pembayaran bailout jika kesepakatan keringanan utang tidak tercapai.

Selain itu, keinginan mantan PM Italia Matteo Renzi untuk maju dalam pemilihan dan mempercepat pemilihan pada awal September, bersamaan dengan pemilihan di Jerman, telah memunculkan kekhawatiran soal bergeloranya populisme.

"Sepertinya pasar harus menghadapi kekhawatiran tentang pemilihan dan populisme lagi selama musim panas. Itu tentu saja merupakan hambatan bagi euro," kata ahli strategi mata uang Rabobank Jane Foley.

Hal sama juga terjadi di Inggris, pound sterling melemah 0,1% ke USD1,2831. Hal ini terkait jelang pemilihan PM Inggris, dimana PM Theresa May mendapat tekanan dari partainya: Konservatif terkait penerapan Brexit.

"Terjadi pertikaian politik karena May harus mendengarkan pandangan yang lebih keras mengenai Brexit," ujar pakar strategi Commerzbank Thu Lan Nguyen. Sementara itu, Partai Buruh, yang diharapkan kaum liberal bisa menang karena mereka lembut terhadap Brexit.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Pulang Merosot...
Rupiah Pulang Merosot ke Rp14.133 per USD
Rupiah Berpotensi Berbalik...
Rupiah Berpotensi Berbalik Menguat
Rupiah Diprediksi Melanjutkan...
Rupiah Diprediksi Melanjutkan Penguatan
Rupiah Diprediksi Kembali...
Rupiah Diprediksi Kembali Menguat
Akhir Pekan, Rupiah...
Akhir Pekan, Rupiah Diprediksi Tertekan
Rupiah Melanjutkan Pelemahan...
Rupiah Melanjutkan Pelemahan ke Rp13.980 per USD
Berita Terkini
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
16 menit yang lalu
Penghargaan Regional...
Penghargaan Regional Dorong Penguatan Dialog, Kepercayaan, dan Kepemimpinan di Asia Tenggara
26 menit yang lalu
Tren Global Tokenisasi...
Tren Global Tokenisasi Aset Menguat, RWA Jadi Motor Baru Industri Kripto
40 menit yang lalu
INDEF: Wacana Layer...
INDEF: Wacana Layer Cukai Rokok Murah Berisiko Tekan Penerimaan Negara
54 menit yang lalu
8 Juta Sertifikat Tanah...
8 Juta Sertifikat Tanah Gratis Bakal Diterbitkan untuk MBR, Intip Tiga Kategorinya
1 jam yang lalu
Pemanfaatan Big Data...
Pemanfaatan Big Data Analytics di Perusahaan Reasuransi
1 jam yang lalu
Infografis
125 Juta Orang Dapat...
125 Juta Orang Dapat Binasa Akibat Perang Nuklir India-Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved