Pemerintah Berusaha Menjaga Defisit di Bawah 3%

Rabu, 05 Juli 2017 - 21:01 WIB
Pemerintah Berusaha...
Pemerintah Berusaha Menjaga Defisit di Bawah 3%
A A A
JAKARTA - Pemerintah akan menjaga defisit dalam APBNP 2017 di bawah 3% dari product domestic bruto (PDB). Namun, dengan pembebasan biaya PPh dan BPHTB untuk program percepatan sertifikasi lahan, dan kenaikan subsidi elpiji 3 kg, banyak yang menyangsikan defisit akan terjaga di angka tersebut, malah bisa melebar di atas 3%.

Belum lagi rencana kenaikan harga BBM yang mendapat respons tidak sedap dari masyarakat. Bahkan, jika harga BBM dan elpiji tak jadi naik, kabarnya Pertamina akan minta pemerintah untuk menyubsidi hingga Rp38 triliun.

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan akan melakukan kalkulasi ulang mengenai kenaikan dan subsidi energi ini. "APBN 2017 dengan keputusan mengenai subsidi elpiji dan listrik maupun BBM kita melakukan kalkulasi lagi," kata dia di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (5/7/2017).

Untuk semester pertama, kata dia, memang ada kenaikan namun keputusan dari menteri BUMN dan ESDM, perbedaan antara jumlah subsidi yang ada di APBN dengan yang harus ditanggung Pertamina akan dibayar oleh mereka dahulu.

"Sedangkan untuk semester II kita akan melihat dari sisi pemerintah akan memenuhi kewajiban pembayaran BBM yang selama ini dipakai institusi seperti TNI yang belum terbayarkan. Kami akan menggunakan itu," jelasnya.

Sementara untuk defisit, pemerintah akan tetap menjaga di bawah 3% saat ini sesuai APBN 2017 dan perubahannya akan ada di sekitar 2,67% dengan telah memperhitungkan kemungkinan dari K/L untuk membelanjakan seluruh anggarannya pada kisaran 95%.

"Ini sama seperti yang tren selama ini. Dengan demikian kita tetap optimistis untuk bisa menjaga defisit di kisaran 2,67%," imbuh dia.

Kemudian soal pembebasan PPh dan BPHTB yang akan memengaruhi juga, Sri Mulyani memandang setiap pos ada pergerakannya karena asumsi makro sejauh ini ada yang bergerak sedikit, kemudian juga dari sisi penerimaan pajak berdasarkan poin-poinnya pun bergerak, belanja K/L ada perubahan juga yaitu belanja barang dikurangi.

Namun, belanja modal dinaikkan, ada pembiayaan seperti kenaikan dari LMAN, perubahan dari sisi komposisi, juga dari belanja subsidi tadi belanja non K/L. "Semua kami bahas dengan dewan tiga pekan ke depan. Jadi, Anda bisa membuat tulisan lebih detail saat kami membahas itu," tuturnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Reputasi RI Rusak Soal...
Reputasi RI Rusak Soal Menjaga Defisit APBN di Mata Dunia
Anggaran Kemenkeu 2021...
Anggaran Kemenkeu 2021 Disetujui DPR Rp42,36 Triliun
Sri Mulyani Ungkap Anggaran...
Sri Mulyani Ungkap Anggaran Ini Sering Jadi Temuan BPK
Sri Mulyani Minta Tambah...
Sri Mulyani Minta Tambah Anggaran Langsung Disambut Pembentukan Panja
DPR Setujui Anggaran...
DPR Setujui Anggaran untuk Sri Mulyani Sebesar Rp43,19 Triliun
Waspada Saudara.....!...
Waspada Saudara.....! Defisit APBN Tembus Rp883,7 Triliun
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
9 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
10 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
10 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
10 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
11 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
11 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved