Triwulan III, Harga Properti di Kota Semarang Relatif Stagnan

Kamis, 16 November 2017 - 18:33 WIB
Triwulan III, Harga...
Triwulan III, Harga Properti di Kota Semarang Relatif Stagnan
A A A
SEMARANG - Kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya pulih masih berpengaruh terhadap kondisi properti secara umum, termasuk sektor residensial di Kota Semarang.

Pada triwulan III/2017, kondisi properti residensial pasar sekunder di Kota Semarang mulai menunjukkan pergerakan yang positif tetapi nilainya masih sangat kecil, atau relatif stagnan.

Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Wilayah Jateng Rahmad Dwi Saputra mengatakan, transaksi yang terjadi pada triwulan III baik di segmen menengah maupun menengah atas sebagian besar masih berada di nilai penawaran yang sama dengan triwulan sebelumnya.

"Walaupun demikian, terdapat beberapa properti dengan harga penawaran turun, hal ini dilakukan agar lebih cepat terjadi transaksi jual beli properti," ujarnya, Kamis (16/11/2017).

Ia menjelaskan, harga properti residensial di pasar sekunder untuk Kota Semarang pada triwulan III/2017 mengalami kenaikan, yaitu sebesar 0,22% (qtq) atau 0,14% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Peningkatan harga rumah tertinggi secara triwulanan terjadi di wilayah Semarang Selatan sebesar 0,60% (qtq). Sementara secara tahunan, peningkatan harga rumah tertinggi terjadi di wilayah Semarang Timur sebesar 1,03% (yoy).

Menurut dia, pertumbuhan properti residensial pada triwulan III/2017 terindikasi dari meningkatnya penyaluran kredit konsumsi sebesar 8,86% (yoy). Peningkatan KPR untuk kepemilikan rumah segmen menengah dan menengah atas (rumah tinggal tipe di atas 70) menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 5,45% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,60% (yoy).

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Pertanahan DPD REI Jateng Wibowo Tedjosukmono mengaku, meskipun secara makro ekonomi di Jawa Tengah sudah bisa dibilang sudah cukup baik, kebijakan pemerintah juga sangat mendudukung, namun, daya belinya masih cukup rendah.

Dengan masih lesunya penjualan properti, kata dia, banyak pengembang yang mengerem pembangunan. Selain itu, lanjutnya, saat ini banyak pengembang yang melakukan penyesuaian terhadap serapan pasar.

"Banyak pengembang melakukan diversifikasi produk di kelas-kelas yang pasarnya lebih tebal, yaitu hunian dengan rentang harga antara Rp300 juta hingga Rp700 juta," tuturnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kontribusi Industri...
Kontribusi Industri Properti Terhadap PDB
Re/Max Solusi Ajak Generasi...
Re/Max Solusi Ajak Generasi Muda Terlibat dan Investasi Properti
Pasar Properti Membaik,...
Pasar Properti Membaik, Industri Pendukung Properti Lakukan Ekspansi
Sektor Properti Bangkit...
Sektor Properti Bangkit di 2025, Program 3 Juta Rumah Jadi Pendorong
Industri Properti Berikan...
Industri Properti Berikan Dampak Positif ke Pasar Gipsum
Dana Kurang, Tak Ada...
Dana Kurang, Tak Ada Salahnya Pakai Konsep Rumah Tumbuh
Berita Terkini
Harga Emas Dibuka Naik...
Harga Emas Dibuka Naik Rp5 Ribu ke Rp2.743.000 per Gram, Intip Rinciannya
56 menit yang lalu
Marketplace kian Sesak,...
Marketplace kian Sesak, Momentum Baru bagi Pertumbuhan Bisnis Mandiri
1 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Makin Terkapar di Posisi 5.486, Ada 515 Saham Melemah
2 jam yang lalu
Perbandingan Harga BBM...
Perbandingan Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo dan BP di Awal Juni 2026
2 jam yang lalu
Libur Sekolah 2026,...
Libur Sekolah 2026, Tarif Angkutan Penyeberangan Diskon Sekitar 21,9%
3 jam yang lalu
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
4 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved