Tak Mungkin Tutup Ritel Modern, Mendag Jaga Pasar Tradisional
Sabtu, 25 November 2017 - 01:06 WIB
Tak Mungkin Tutup Ritel Modern, Mendag Jaga Pasar Tradisional
A
A
A
MALANG - Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukito menegaskan, bakal terus melakukan terobosan untuk menjaga keberadaan para pedagang dan pasar tradisional di tengah menjamurnya ritel modern. Salah upayanya yakni melibatkan pusat-pusat distribusi untuk memasok barang dagangan ke pasar tradisional.
Menanggapi desakan mengurangi ritel modern yang terus tumbuh, Mendag Enggar mengungkapkan tidak serta-merta ditutup, karena telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja. “Tidak mungkin menutup retail modern,” ujarnya, saat meninjau Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang, Jawa Timur.
Menurut Enggar, adanya pasokan barang dari pusat distribusi secara langsung ke pedagang pasar tradisional, diharapkan dapat membuat para pedagang pasar tradisional bisa memiliki daya saing harga dengan retail modern.
“Selama ini pedagang pasar tradisional sulit bersaing harga dengan retail modern, karena mereka mendapatkan barang dagangan tidak langsung dari pusat distribusi barangnya. Sehingga, harga barang yang didapatkannya sudah tinggi,” tegasnya.
Kerja sama dengan pusat distribusi barang langsung ke pedagang pasar tradisional, menurutnya masih dalam proses. Salah satunya, dilaksanakan di wilayah Jakarta. Selanjutnya nanti akan dievaluasi untuk keberlanjutannya.
Selain kerja sama dengan pusat distribusi, dia mengaku terus melakukan upaya membangun pasar tradisional agar lebih bersih, dan nyaman bagi masyarakat yang berbelanja. Akses bantuan modal usaha dari perbankan, juga diberikan kepada para pedagang pasar tradisional.
Enggar berharap, semua terobosan ini bisa semakin menjaga keberadaan pedagang dan pasar tradisional. “Masyarakat yang ingin berbelanja, juga semakin banyak pilihan untuk mencari tempat berbelanja memenuhi kebutuhannya,” ungkapnya.
Selain mengecek keberlangsungan pedagang dan pasar tradisional. Kedatangan Enggartiasto ke pasar tradisional ini, sekaligus mengecek ketersediaan kebutuhan pokok menjelang Natal, dan tahun baru. “Sekarang kondisi persediaan dan harga kebutuhan pokok masih stabil. Jawa Timur, juga selalu surplus untuk persediaan berasnya, sehingga bisa menjual keluar daerah,” terangnya.
Upaya menghubungkan langsung pedagang pasar tradisional dengan pusat distribusi barang tersebut, juga sudah disosialisasikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. “Kami sosialisasikan terus kepada pedagang, dan masyarakat, sesuai aturan menteri,” tutur Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur, Mochammad Ardi Prasetyawan.
Terkait ketersediaan beras untuk menghadapi Natal, dan tahun baru. Dipastikannya sangat mencukupi. Kebutuhan beras di Jawa Timur, setiap tahunnya mencapai 5 juta ton. Sedangkan kemampuan produksinya mencapai 10 juta ton/tahun. Selama ini, kelebihan beras tersebut, bisa dijual ke wilayah Indonesia timur.
Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto mengatakan, untuk perbaikan pasar tradisional, sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 silam. Pasar tradisional yang berhasil direvitalisasi pertama kali, adalah Pasar Oro-oro Dowo. “Tahun ini, kita selesaikan revitalisasi untuk Pasar Bareng, dan Pasar Gadang Lama,” terang dia.
Program revitalisasi ini, dibiayai oleh Kementerian Perdagangan. Nilai anggarannya, mencapai Rp4 miliar untuk satu pasar. Tahun depan, direncanakan revitalisasi pasar tradisional dilaksanakan di tiga pasar, yakni Pasar Klojen, Pasar Bunul dan Pasar Sukun.
Menanggapi desakan mengurangi ritel modern yang terus tumbuh, Mendag Enggar mengungkapkan tidak serta-merta ditutup, karena telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja. “Tidak mungkin menutup retail modern,” ujarnya, saat meninjau Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang, Jawa Timur.
Menurut Enggar, adanya pasokan barang dari pusat distribusi secara langsung ke pedagang pasar tradisional, diharapkan dapat membuat para pedagang pasar tradisional bisa memiliki daya saing harga dengan retail modern.
“Selama ini pedagang pasar tradisional sulit bersaing harga dengan retail modern, karena mereka mendapatkan barang dagangan tidak langsung dari pusat distribusi barangnya. Sehingga, harga barang yang didapatkannya sudah tinggi,” tegasnya.
Kerja sama dengan pusat distribusi barang langsung ke pedagang pasar tradisional, menurutnya masih dalam proses. Salah satunya, dilaksanakan di wilayah Jakarta. Selanjutnya nanti akan dievaluasi untuk keberlanjutannya.
Selain kerja sama dengan pusat distribusi, dia mengaku terus melakukan upaya membangun pasar tradisional agar lebih bersih, dan nyaman bagi masyarakat yang berbelanja. Akses bantuan modal usaha dari perbankan, juga diberikan kepada para pedagang pasar tradisional.
Enggar berharap, semua terobosan ini bisa semakin menjaga keberadaan pedagang dan pasar tradisional. “Masyarakat yang ingin berbelanja, juga semakin banyak pilihan untuk mencari tempat berbelanja memenuhi kebutuhannya,” ungkapnya.
Selain mengecek keberlangsungan pedagang dan pasar tradisional. Kedatangan Enggartiasto ke pasar tradisional ini, sekaligus mengecek ketersediaan kebutuhan pokok menjelang Natal, dan tahun baru. “Sekarang kondisi persediaan dan harga kebutuhan pokok masih stabil. Jawa Timur, juga selalu surplus untuk persediaan berasnya, sehingga bisa menjual keluar daerah,” terangnya.
Upaya menghubungkan langsung pedagang pasar tradisional dengan pusat distribusi barang tersebut, juga sudah disosialisasikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur. “Kami sosialisasikan terus kepada pedagang, dan masyarakat, sesuai aturan menteri,” tutur Kepala Disperindag Provinsi Jawa Timur, Mochammad Ardi Prasetyawan.
Terkait ketersediaan beras untuk menghadapi Natal, dan tahun baru. Dipastikannya sangat mencukupi. Kebutuhan beras di Jawa Timur, setiap tahunnya mencapai 5 juta ton. Sedangkan kemampuan produksinya mencapai 10 juta ton/tahun. Selama ini, kelebihan beras tersebut, bisa dijual ke wilayah Indonesia timur.
Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto mengatakan, untuk perbaikan pasar tradisional, sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 silam. Pasar tradisional yang berhasil direvitalisasi pertama kali, adalah Pasar Oro-oro Dowo. “Tahun ini, kita selesaikan revitalisasi untuk Pasar Bareng, dan Pasar Gadang Lama,” terang dia.
Program revitalisasi ini, dibiayai oleh Kementerian Perdagangan. Nilai anggarannya, mencapai Rp4 miliar untuk satu pasar. Tahun depan, direncanakan revitalisasi pasar tradisional dilaksanakan di tiga pasar, yakni Pasar Klojen, Pasar Bunul dan Pasar Sukun.
(akr)
Lihat Juga :