Menkeu Waspadai Perdagangan Internasional yang Melambat
Kamis, 01 November 2018 - 01:11 WIB
Menkeu Waspadai Perdagangan Internasional yang Melambat
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani akan mewaspadai gejolak ekonomi global yang bakal menghantam perekonomian di Indonesia. Salah satunya adalah perdagangan internasional yang melambat.
Hal itu disebabkan oleh tensi ketegangan perdagangan antara AS dengan China yang membuat kebijakan dari negara-negara ekonomi besar lebih proteksionis.
"Pertumbuhan perdagangan global tahun ini sudah direvisi dari 5,2% menjadi 4,2% dan tahun depan menjadi 4,0%. Dua lingkungan ini yang harus kita hadapi, karena kebijakan perdagangan melambat bakal menjdi tantangan kedepan," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (31/10/2018).
Meski demikian, Sri Mulyani optimis akan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 yang diproyeksikan di level 5,3%. Keyakinan ini sudah memperhitungkan kemungkinan gejolak ekonomi global yang akan terjadi.
"Jadi, dari sisi perekonomian dunia dan domestik, kita sudah pahami risiko global yang meningkat dengan adanya kenaikan tensi perdagangan. Juga munculnya kebijkan moneter The Fed yang menbuat suku bunga dan likuiditas meningkat," tandasnya.
Hal itu disebabkan oleh tensi ketegangan perdagangan antara AS dengan China yang membuat kebijakan dari negara-negara ekonomi besar lebih proteksionis.
"Pertumbuhan perdagangan global tahun ini sudah direvisi dari 5,2% menjadi 4,2% dan tahun depan menjadi 4,0%. Dua lingkungan ini yang harus kita hadapi, karena kebijakan perdagangan melambat bakal menjdi tantangan kedepan," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (31/10/2018).
Meski demikian, Sri Mulyani optimis akan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 yang diproyeksikan di level 5,3%. Keyakinan ini sudah memperhitungkan kemungkinan gejolak ekonomi global yang akan terjadi.
"Jadi, dari sisi perekonomian dunia dan domestik, kita sudah pahami risiko global yang meningkat dengan adanya kenaikan tensi perdagangan. Juga munculnya kebijkan moneter The Fed yang menbuat suku bunga dan likuiditas meningkat," tandasnya.
(ven)
Lihat Juga :