Impor Baja dari China Melonjak 59%, Enggar Ingin Revisi Permendag 22

Kamis, 10 Januari 2019 - 19:27 WIB
Impor Baja dari China...
Impor Baja dari China Melonjak 59%, Enggar Ingin Revisi Permendag 22
A A A
JAKARTA - Angka impor produk baja ke Indonesia naik tajam sepanjang 2018. Maraknya baja-baja impor yang mayoritas datang dari China, dipicu oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja.

Beleid ini lantas dimanfaatkan importir untuk meraih untung besar. Mereka mengubah Harmonized System (HS) number dari produk baja karbon menjadi alloy steel. Sehingga bea masuk lebih rendah. Begitu juga dengan pemeriksaan, dari semula di Pusat Logistik Berikat (PLB) menjadi pemeriksaan post border inspection.

Akal-akalan ini, membuat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ingin merevisi Permendag Nomor 22 Tahun 2018. Karena impor besi dan baja dari China membengkak hingga 59%.

Enggar mengatakan, pemeriksaan untuk impor besi dan baja dilakukan di post border, sejatinya untuk memberi kemudahan kepada industri kecil dan menengah (IKM) dalam melakukan importasi.

"Peraturan dari border ke post border sebenarnya tujuannya untuk relaksasi. Tapi saya sudah menyatakan, potensi penyelundupan dan penyimpangan meningkat. Hanya kalau itu tidak dilakukan (post border inspection), kesannya kita mempersulit. Makanya kami lakukan," ujarnya di Gedung Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).

Namun, Permendag Nomor 22 justru memberi dampak negatif karena impor baja menjadi sangat mudah. Dan pengusaha lebih memilih baja impor ketimbang baja produksi dalam negeri. Oleh sebab itu, pihaknya akan mengubah aturan tersebut dimana pemeriksaan dari post border kembali menjadi border.

"Dengan kondisi seperti ini, memberikan dampak negatif, industri hulunya kita ubah, Saya minta izin Menko Perekonomian untuk mengubah kembali ke Permendag 10, yaitu kembalikan lagi ke border. Karena ini bahaya. Kalau di post border, kita periksa di ujung," imbuh dia.

Enggar pun mengimbau kepada para pengusaha untuk tidak semena-mena memilih produk impor dan mengabaikan produksi dalam negeri. Jika memang bisa diproduksi dalam negeri dan produknya sesuai maka seharusnya yang digunakan produk dalam negeri.

"Saya sudah lakukan imbauan tolong jangan impor kalau ada produksi dalam negeri. Saya tidak melarang tapi kita dudukan ke pokok persoalan. Kita tidak akan mengorbankan salah satu industri untuk kepentingan industri lain. Kalau harga (produksi dalam negeri) jauh lebih tinggi dari impor, kita lihat dulu. Tapi kalau tidak bisa juga, baru impor. Tapi kalau beda sedikit, ya janganlah (impor). Kita harus berpihak kepada industri dalam negeri, kalau tidak, kita akan repot," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kejagung Tahan ASN Kemendag...
Kejagung Tahan ASN Kemendag Terkait Kasus Impor Besi dan Baja
Kasus Impor Baja, Kejagung...
Kasus Impor Baja, Kejagung Periksa Direktur Tertib Niaga Kemendag dan PNS Kemenperin
Thailand Hentikan Bea...
Thailand Hentikan Bea Masuk Safeguard Baja Canai Panas, Lets Go Ekspor
Kemendag: Surplus Neraca...
Kemendag: Surplus Neraca Perdagangan 2021 Bisa Pecahkan Rekor
Hubungan Amerika dan...
Hubungan Amerika dan Inggris Makin Mesra, Tarif Baja Era Trump Dihapus
Ekspor Indonesia-China...
Ekspor Indonesia-China Makin Kinclong, Baja dan Kertas Paling Banyak Dikirim
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
8 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
8 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
9 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
9 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
9 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
10 jam yang lalu
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved