Setelah Menang Enam Hari, Wall Street Jatuh Karena Government Shutdown

Sabtu, 12 Januari 2019 - 09:31 WIB
Setelah Menang Enam...
Setelah Menang Enam Hari, Wall Street Jatuh Karena Government Shutdown
A A A
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat, karena berlarut-larutnya government shutdown.

Melansir dari CNBC, Sabtu (12/1/2019), indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,11% menjadi 23.974,39. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,03% ke level 2.595,79, dan Nasdaq tergelincir 0,19% menjadi 6.972,74.

Pemerintah Federal memutuskan menutup sebagian besar layanan pemerintah pada Jumat, setelah 21 hari berturut-turut deadlock soal government shutdown. Hal ini memicu kekhawatiran penutupan yang akan berlangsung lama.

Presiden AS Donald Trump pun langsung menyatakan melewatkan pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada akhir Januari karena government shutdown. Trump kemungkinan akan mengumumkan keadaan darurat nasional jika Gedung Putih dan Kongres tidak dapat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri penutupan.

"Saya pikir kesepakatan bakal tetapi setelah mereka merasakan rasa sakit di ekonomi, keuangan, dan politik. Setiap dua minggu dari shutdown telah memangkas 0,1 poin dari pertumbuhan ekonomi," ujar Joseph Song, ekonom di Bank of America Merrill Lynch di New York.

Sebelumnya selama enam hari, Wall Street berada pada jalur cepat untuk membukukan kenaikan mingguan yang kuat. Indeks Dow Jones dan S&P 500 naik lebih dari 2% pada pekan ini, dan Nasdaq telah meningkat 3,2%.

Sementara itu, Nancy Davis, chief invesment officer (CIO) dari Quadratic Capital, mengatakan meski government shutdown berakhir, volatilitas di pasar saham akan tetap tinggi di masa mendatang.

"Saya melihat volatilitas tinggi akan kembali ke pasar. Naik turun ini akan menjadi pemandangan yang lebih umum," katanya.

Nancy dan analis dari Goldman Sachs, Karen Holthouse, mengatakan volatilitas ini disebabkan kekhawatiran perlambatan ekonomi China yang akan mengurangi permintaan produk-produk dari emiten di AS.

Starbucks, Apple, dan McDonald's, menyatakan terjadi penurunan permintaan sejak akhir tahun lalu, menyusul perlambatan ekonomi di China, sehingga mereka harus mengoreksi target pendapatan di tahun ini.

Dan kekhawatiran perlambatan ekonomi China telah membuat Beijing datang untuk mencoba melakukan kesepakatan permanen dengan AS, untuk menyelesaikan konflik dagang yang telah menghukum ekonomi mereka.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Indodax Perkuat Pengawasan...
Indodax Perkuat Pengawasan Transaksi Kripto Berbasis AI
1 jam yang lalu
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
1 jam yang lalu
AirNav Gandeng AdMedika...
AirNav Gandeng AdMedika Permudah Akses Layanan Kesehatan Karyawan
1 jam yang lalu
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah 0,28% ke Level 5.902 Sore Ini
2 jam yang lalu
XLSMART dan Komdigi...
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Targetkan Digitalisasi 2,4 Juta Perempuan di 2026
2 jam yang lalu
Nasabah MNC Bank Apresiasi...
Nasabah MNC Bank Apresiasi Program Tabungan Dahsyat Berhadiah
2 jam yang lalu
Infografis
Ini Kecanggihan Drone...
Ini Kecanggihan Drone MQ-9 Reaper AS, 11 Unit Telah Ditembak Jatuh Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved