Batik Warna Alam Penuh Filosofi

Rabu, 06 Maret 2019 - 00:53 WIB
Batik Warna Alam Penuh Filosofi
Batik Warna Alam Penuh Filosofi
A A A
Batik dengan pewarna alam diyakini memberikan rasa percaya diri dan membuat pemakainya menjadi lebih “hidup”. Karena batik tak sekadar seni, tetapi juga mengandung filosofi.Inilah yang menjadi keyakinan Ferry Sugeng Santoso hingga bisa memasarkan produknya ke berbagai negara di bawah bendera “Alam Batik”.

Sejak 2009, ia membesarkan Alam Batik dengan mendidik 15 orang pembatik, yang sebagian besar anak putus sekolah, di kawasan tempat tinggalnya, Desa Gunting, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Pada tahun itu pula ia terlibat dalam Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (SETC). Sejak itu, kepercayaan dirinya membangun Alam Batik semakin tinggi.

Kini, Ferry sudah menjadi mentor pelatihan batik dengan menggunakan pewarna alam. Berbagai penghargaan telah diraihnya. Terbaru, penghargaan Nayaka Pariwisata dari Kementerian Pariwisata.
Batik Warna Alam Penuh Filosofi

Awalnya tak tertarik batik

Keseharian Ferry dekat dengan batik. Ayah dan ibunya merupakan pemilik usaha batik “Dinar Agung”. Saat itu, ia sama sekali tak tertarik dengan batik.

Hingga pada 2006, Dinar Agung mendapatkan undangan dari Kementerian Perindustrian untuk mengikuti pelatihan pewarnaan alam di Yogyakarta. Ferry berangkat mewakili kedua orangtuanya.

“Saya disuruh berangkat. Mungkin ya sudah jalannya. Awalnya saya tidak mau sama sekali. Oleh panitia, semua harus membatik, akhirnya mau tidak mau. Padahal, saya belum pernah sama sekali membatik,” kata Ferry, saat dijumpai di sela pameran UKM bertajuk SETC Expo 2018, di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Meski terpaksa, Ferry melalui pelatihan itu dengan baik. Semua hal tentang batik dan pewarnaan alam dipelajarinya. Dari sinilah ketertarikan dan kecintaannya terhadap batik terus tumbuh. Batik mengajarkannya banyak hal.

“Bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat, harmoni dengan lingkungan, menjalin kemesraan dengan Tuhan. Filosofinya saya dapat di situ. Kita bisa belajar sinergi dengan masyarakat, alam. Ternyata batik mengajarkan saya sampai sejauh itu,” kisah dia.

Membangun “Alam Batik”
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1187 seconds (10.177#12.26)