Impor Bawang Oleh Bulog Dinilai Harus Sejalan Wajib Tanam Importir

Jum'at, 31 Mei 2019 - 21:00 WIB
Impor Bawang Oleh Bulog...
Impor Bawang Oleh Bulog Dinilai Harus Sejalan Wajib Tanam Importir
A A A
JAKARTA - Rekomendasi impor bawang putih kepada Bulog dinilai oleh pengamat bertentengan dengan kebijakan wajib tanam 5% bagi pengimpor, sesuai Permentan No 16 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Permintaan DPR tersebut juga dinilai mengindahkan kerja petani dalam upaya peningkatan produksi bawang putih.

Direktur Centre For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menegaskan, poin tersebut melanggar undang-undang dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus memantau aturan itu. Ia mempersoalkan salah satu poin hasil rapat, yang menegaskan permintaan terhadap Pemerintah yakni Kementerian Perdagangan untuk menindaklanjuti hasil rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kepada Perum Bulog terkait penugasan importasi bawang putih dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga.

"Itu (pemberian rekomendasi agar Bulog diberikan izin impor bawang putih-red) melanggar UU. Masa DPR membolehkan pemerintah melanggar. Harusnya DPR menjaga koridor dan payung hukum berlaku. Menaati UU dan peraturan yang ada," kata Uchok kepada wartawan, Jumat (31/5/2019).

Salah satu poin itu dianggap aneh lantaran DPR seakan menjadi backing Bulog minta impor bawang putih tanpa pakai wajib tanam. Uchok menegaskan, kalau semua aturan dilanggar, seolah-olah bakal menjadi mafia semua. Karenanya, kata dia, mafia dalam bekerja tidak memakai aturan, alias sikat semua. "Atau DPR jangan ikut bermain juga dalam kasus ini. Kelihatannya mau Lebaran kayaknya nih. Kalau begini sudah bahaya," katanya.

KPK pun diminta Uchok untuk memantau aturan itu karena diyakini terlalu aneh. "KPK harus pantau ini, kenapa DPR tidak melarang justru memperbolehkan. Ingat di DPR itu tidak ada yang gratis. Apalagi Kalau kebijakannya sudah berjalan, KPK harus memanggil pihak-pihak yang terkait," tuturnya.

Di kesempatan lain, Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Sarman Simanjorang menegaskan, importir bawang putih diwajibkan melakukan tanam di dalam negeri paling sedikit 5% dari total impor yang diajukan. Hal itu sesuai dengan Permentan No 16 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Semuanya berlaku tak terkecuali.

"Lokasi tanam diutamakan di wilayah baru, hal ini dilakukan agar produksi dalam negeri terus meningkat. Masalahnya apakah wajib tanam ini sudah dilakukan oleh Bulog, kalau tidak melakukan wajib tanam tentunya Bulog tidak dapat melakukan impor bawang putih karena akan bertentangan dengan Permentan," katanya.

Kemudian, kata dia, kalaupun Bulog diberikan kuota impor agar memperhatikan aspek demand dan supply. Sehingga harganya stabil sesuai dengan daya beli masyarakat dan juga tidak merugikan para importir.Kini, harga bawang putih sudah turun.

"Harga saat ini sudah turun dan mendekati normal ini harus tetap dijaga dengan memperhatikan kebutuhan stok dan kebutuhan pasar. Saya setuju dengan hasil RDP dgn DPR pada poin terakhir agar pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian untuk berlaku adil kepada seluruh importir bawang putih khususnya yang mengurus RIPH agar jangan ada importir yang di anak emaskan," paparnya.

Terhadap rekomendasi itu, anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasludin mengataka, penugasan impor bawang putih kepada Bulog diyakini tidak akan dilakukan sendiri. Melainkan akan dilelang atau ditenderkan kembali kepada importir-importir swasta. "Lucunya lagi, impor itu tentu bukan Bulog, pasti dilempar lagi. Tetap jadi kayak calo aja jadinya," katanya.

Ia mengamini, saat ini, harga bawang putih di pasaran sudah mulai turun dan stabil, salah satunya disebabkan karena adanya gelontoran bawang putih dari Kementerian Pertanian sebanyak 130 ribu ton. Dalam hal ini, jika Kementan memiliki cadangam sebanyak 130 ribu ton, mengapa dipaksakan penugasan impor kepada Bulog sebanyak 100 ribu ton.

"Perlu diverifikasi, benar atau tidak. Kalau benar, kenapa kasih izin. Kan salah satu izin impornya juga dari Kementan. Kan lucu kalau dia punya stok 130 ribu ton, tapi keluarkan izin impor 100 ribu ton. Kebutuhan kita berapa sebenarnya," lanjutnya.

Diketahui, ada beberapa poin hasil RDP tertanggal 29 Mei 2019 itu. Pertama,. Komisi mengapresiasi Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Perum Bulog dalam papaya menjaga dan terus mengawal ketersediaan dan stabilitas harga pangan.

Komisi IV DPR Rl juga meminta Pemerintah untuk meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinergitas dalam menjamin ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan pokok, sehingga pangan yang diterima masyarakat tersedia dengan cukup, tepat waktu, berkualitas, terjangkau, aman, dan bergizi untuk dikonsumsi tanpa merugikan petani dan peternak sebagai produsen.

Di saat sama, Pemerintah diminta untuk memperpanjang program kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) dalam rangka menyambut Hari Besar Keagamaan Nasional. Selanjutnya juga meminta Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan untuk menindaklanjuti hasil rapat Koordinasi Terbatas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kepada Perum Bulog terkait dengan penugasan importasi bawang putih dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan dan stability harga.

Pemerintah, juga diminta menindak tegas para pelaku usaha pangan yang terbukti melanggar kelancaran distribusi dan keamanan pangan serta yang melakukan penimbunan pangan sehingga tidak mengganggu stabilitas harga pangan. Sedang yang terakhir, Komisi IV DPR Rl meminta Pemerintah untuk memberikan perhatian yang adi terhadap seluruh importir khususnya bawang putih.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Penundaan SPI Bisa Pengaruhi...
Penundaan SPI Bisa Pengaruhi Harga Bawang Putih
Harga Bawang Putih Meroket,...
Harga Bawang Putih Meroket, Permainan Kuota Impor Masih Berjalan?
Importir Bawang Putih...
Importir Bawang Putih Berharap Izin Segera Diterbitkan
Ada Impor, Pusbarindo...
Ada Impor, Pusbarindo Tegaskan Harga Bawang Putih Segera Turun
Supaya Tak Ada Salah-salahan...
Supaya Tak Ada Salah-salahan Kisruh Bawang Putih, DPR Akan Panggil Dua Menteri
Pengusaha ‘Terjepit’...
Pengusaha ‘Terjepit’ di Tengah Ketidakkompakan Kemendag-Kementan
Berita Terkini
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
50 menit yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
1 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
1 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
2 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
2 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
2 jam yang lalu
Infografis
Sistem Pertahanan S-400...
Sistem Pertahanan S-400 India Dihancurkan oleh Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved