Empat Fundamental yang Perlu Diperbaiki untuk Daya Tahan Ekonomi Indonesia

Sabtu, 10 Agustus 2019 - 16:13 WIB
Empat Fundamental yang...
Empat Fundamental yang Perlu Diperbaiki untuk Daya Tahan Ekonomi Indonesia
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan ada empat hal fundamental yang perlu diperbaiki secara berkelanjutan agar ekonomi Indonesia memiliki resilient (daya tahan) terhadap guncangan ekonomi global.

Pertama adalah produktivitas, tingkat kompetitif terkait dengan defisit neraca berjalan, pendalaman pasar keuangan dan kebijakan struktural untuk memperbaiki investasi.

"Kita membutuhkan beberapa fundamental yang perlu diperbaiki yaitu produktivitas, competitiveness terkait dengan current account deficit, financial deepening dan dari sisi kebijakan struktural untuk memperbaiki investasi kita,” jelas Sri Mulyani dalam keterangan resmi, Minggu (10/9/2019).

Dia mengatakan bauran kebijakan tersebut diharapkan amembuat Indonesia mempunyai daya lentur (resilience) dalam menghadapi gejolak global maupun perubahan di dalam negeri, yang seringkali tidak bisa diprediksi (unpredictable) dan dinamis.

"Seperti misalnya krisis keuangan atau kebijakan di negara-negara maju, fluktuasi harga minyak dan komoditas lainnya, perang dagang, ekonomi boom atau boost, tapper tantrum dan bahkan akhir-akhir ini mulai muncul perang mata uang yang dipicu oleh Republik Rakyat China," jelasnya.

Ia menegaskan pemerintah bekerjasama dengan para stakeholders terkait (misalnya Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan) dan terus melakukan bauran kebijakan yang tepat dalam memperbaiki dan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.

"Antara lain melalui reformasi struktural dalam negeri," jelasnya.

Oleh karena itu, Menkeu menekankan perlunya kemandirian ekonomi yang terutama bersumber dari dalam negeri agar Indonesia mampu bertahan apabila terjadi guncangan global.

"Indonesia memiliki modal yang menjanjikan misalnya dari sisi jumlah penduduk, potensi ekonomi yang besar, dan geografi yang luas dan kekayaan alamnya," jelasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Akui 2022 Sangat Brutal,...
Akui 2022 Sangat Brutal, Sri Mulyani Ramal Pelemahan Akan Dirasakan Tahun Ini
Hadapi Gejolak Global,...
Hadapi Gejolak Global, Sri Mulyani Ajak Semua Pihak Tak Gentar
Menyoroti Gejolak Global,...
Menyoroti Gejolak Global, Sri Mulyani: Harga Komoditas Masih Tidak Pasti
Tekanan Ekonomi Global...
Tekanan Ekonomi Global Mulai Reda, Sri Mulyani: Risiko Tetap Sama
Sri Mulyani Wanti-wanti...
Sri Mulyani Wanti-wanti Kinerja Impresif Ekonomi RI Dihantui Pelemahan Global
Sri Mulyani Pede Ekonomi...
Sri Mulyani Pede Ekonomi Bisa Tembus 5,5%, Ini Indikatornya!
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
3 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
3 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
4 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
4 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
5 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
5 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved