Kartel Perdagangan Nikel Dinilai Bikin Negara Merugi

Senin, 18 November 2019 - 21:58 WIB
Kartel Perdagangan Nikel...
Kartel Perdagangan Nikel Dinilai Bikin Negara Merugi
A A A
JAKARTA - Dugaan praktik kartel perdagangan nikel domestik oleh pabrik smelter dinilai membuat negara kehilangan pendapatan hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Selain itu, kata Anggota Komisi XI DPR RI Said Abdullah, praktik persaingan usaha tidak sehat itu juga merugikan pemilik Ijin Usaha Pertambangan (IUP).

“Saya kira, perlu ada Tata Niaga Nikel untuk melindungi penambang nikel dari praktik kartel perdagangan nikel domestik. Kartel ini sebuah kejahatan koorporasi yang merugikan negara dan ada unsur tindak pidana korupsinya," kata Said Abdullah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Sehingga, kata Said, praktik kartel harus diamputasi. Pasalnya, praktik bisnis tidak sehat seperti itu dianggap merusak iklim usaha di Indonesia yang pada gilirannya akan menurunkan daya saing sektor pertambangan di Indonesia.

"Kartel ini bukan hanya merusak harga bahkan menurunkan kualitas nikel para penambang kecil dengan cara tidak mengalui hasil laboratorium surveyor yang ditunjuk Kementerian ESDM dan melakukan uji lab sendiri," kata Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Dia mengatakan, salah satu model memangkas mata rantai kartel dengan cara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan di Indonesia, termasuk mencabut Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019, karena dinilai menimbulkan ketidakpastian berusaha. Hal tersebut dianggapnya penting agar dalam penyusunan peraturan pemerintah akan sempurna, sehingga dapat dijalankan untuk kepentingan kemakmuran rakyat.

"Intinya kekayaan alam Indonesia yang sangat potensial ini harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya," ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebagai langkah konkret, pemerintah harus memberikan sanksi tegas kepada perusahaan-perusahaan nikel yang membeli harga nikel di bawah harga patokan. "Pemerintah juga harus turun langsung ke lapangan, jangan melihat masalah tambang nikel di daerah dari menara dan gedung bertingkat di Jakarta," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
IMF Minta Indonesia...
IMF Minta Indonesia Cabut Larangan Ekspor Nikel, DPR: Jangan Mau Didikte!
5 Negara Pemilik Cadangan...
5 Negara Pemilik Cadangan Nikel Paling Banyak di Dunia
Soal Ekspor 5 Juta Ton...
Soal Ekspor 5 Juta Ton Bijih Nikel Bodong ke China, Anggota DPR: Segera Lacak Perusahaan Mana!
Pengamat Wanti-wanti...
Pengamat Wanti-wanti Efek Buruk Larangan Ekspor Nikel RI Berkepanjangan
Harga Nikel Terjun Bebas...
Harga Nikel Terjun Bebas Sejak 2023, Begini Respons Penambang
4 Negara Penghasil Nikel...
4 Negara Penghasil Nikel Terbesar di Dunia, Cadangan Indonesia Paling Banyak
Berita Terkini
Sokong Mandatori B50...
Sokong Mandatori B50 Diproyeksi Butuh Anggaran Rp32,3 T, BPDP Beri Garansi Kesiapan Dana
23 menit yang lalu
Progres Tol Japek II...
Progres Tol Japek II Selatan Paket 2A Capai 84%, Siap Jadi Jalur Alternatif
58 menit yang lalu
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Global Dinilai Masih Kuat
1 jam yang lalu
TUKS Petrokimia Gresik...
TUKS Petrokimia Gresik Raih Predikat Pelabuhan Terbaik Nasional
1 jam yang lalu
Siap-siap Pendaftaran...
Siap-siap Pendaftaran Peserta Magang Nasional Angkatan II Dibuka Mulai 16 Juli
2 jam yang lalu
Harga Serat Naik, Pemilik...
Harga Serat Naik, Pemilik Brand Lokal Mulai Menghitung Ulang Pilihan Kainnya
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved