Potensi Resesi Ekonomi Dunia Semakin Menurun

Minggu, 19 Januari 2020 - 18:40 WIB
Potensi Resesi Ekonomi...
Potensi Resesi Ekonomi Dunia Semakin Menurun
A A A
JAKARTA - Direktur BNI Asset Management Putut Andanawarih memproyeksikan tahun ini risiko terjadi resesi mulai berkurang karena data-data ekonomi dunia tidak seburuk yang dikhawatirkan. Sementara era suku bunga rendah masih berlanjut atau persists, karena masih dibutuhkan insentif untuk menstimulus ekonomi.

Dari Amerika Serikat (AS) fokusnya adalah konsumsi domestik, karena hal tersebut yang menopang pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2019. "Jika konsumsi domestik di AS berhasil dijaga, kami rasa potensi resesi dapat berkurang. Di China, stimulus sepertinya masih akan diberikan, mengingat perang dagang masih menjadi overhang. Meskipun tensinya sedikit menurun," ujar Putut di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Menurut dia, perekonomian nasional di tahun 2020 diprediksi lebih baik dibandingkan tahun 2019. Konsolidasi pasca Pilpres 2019 membuat pemerintah lebih fokus untuk mengerjakan rencana dan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan Omnibus Law menjadi salah satu yang ditunggu, karena di dalamnya mengatur UU Tenaga Kerja, pemotongan pajak korporasi yang dapat mendorong investasi masuk ke Indonesia.

"Struktur neraca perdagangan Indonesia juga terlihat membaik, terutama dari sisi migas. Terlihat impor migas Indonesia berangsur membaik selama 2019, yang merupakan katalis positif bagi nilai tukar Rupiah," imbuh Putut.

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mengatakan di tahun lalu kinerja pada negara-negara maju atau Developed Markets di atas pasar Asia. Ini terlihat dari kinerja tinggi Developed Markets, tercatat indeks S&P 500 di AS naik 29% di 2019.

"Untuk tahun 2020 pasar negara maju dan negara Asia masih memiliki potensi yang cukup baik. Terutama di tengah ekspektasi stabilisasi ekonomi dan perbaikan aktivitas perdagangan global," ujar Katarina beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pasar saham kawasan Asia akan menawarkan valuasi yang lebih atraktif, dan potensi pertumbuhan earnings yang lebih tinggi di kisaran 10-12%. Sebaliknya, hanya berkisar 8-10% untuk developed markets.

"Ada ekspektasi perbaikan aktivitas perdagangan yang diharapkan bisa menguntungkan kinerja pasar Asia. Perusahaan di Asia dikenal sebagai 'pabrik dunia'," ujarnya.

Sementara itu, di awal tahun 2020 pasar juga dikejutkan peningkatan tensi geopolitik antara AS dan Iran. Pihaknya masih terus memonitor perkembangan konflik tersebut.

Saat ini masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak dari konflik terhadap ekonomi karena belum diketahui konflik ini akan tereskalasi atau mereda dalam waktu dekat.

"Apabila konflik ini tereskalasi, risiko utama terhadap ekonomi adalah kenaikan harga minyak. Minyak juga salah satu komponen beban utama bagi perusahaan di beberapa sektor, sehingga akan menekan profitabilitas. Selain itu kenaikan harga minyak berarti inflasi dan menjadi faktor utama bank sentral global untuk memutuskan tingkat suku bunga," ujarnya.

Iran berada di selat Hormuz yang merupakan perairan penting dalam logistik industri minyak, di mana sekitar 21% dari konsumsi minyak dunia disuplai melalui Selat Hormuz.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Saat Resesi Global Menerjang,...
Saat Resesi Global Menerjang, Ini Dua Produk Investasi yang Aman
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
Hingga Oktober, Dana...
Hingga Oktober, Dana Kelolaan BNI Asset Management Capai Rp24,64 Triliun
Bingung Pilih Produk...
Bingung Pilih Produk Investasi Saat Resesi? Reksadana Dijamin Hoki
Indonesia Dipastikan...
Indonesia Dipastikan Masuk ke Dalam Jurang Resesi Ekonomi
Pentingnya Investasi...
Pentingnya Investasi di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Berita Terkini
Tabungan Kelas Menengah...
Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
24 menit yang lalu
AS Kembali Picu Perang...
AS Kembali Picu Perang Dagang, Kali Ini Kanada Bakal Dihantam Tarif 50%
1 jam yang lalu
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
10 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
10 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
11 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
11 jam yang lalu
Infografis
Daftar Top Skor Sementara...
Daftar Top Skor Sementara Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved