alexametrics

Pandemi Memburuk, Minyak Mentah Turun Makin Dalam

loading...
A+ A-
MELBOURNE - Harga minyak mentah turun tajam pada pembukaan perdagangan pekan ini, di mana minyak Brent mencapai level terendahnya sejak November 2002, tertekan memburuknya pandemi global virus corona (COVID-19) dan perang harga Arab Saudi-Rusia yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Brent berjangka turun 6,7%, atau USD1,68, menjadi USD23,25 per barel, setelah sebelumnya turun menjadi USD23,03, terendah sejak November 2002. Minyak mentah Intermediate West Texas Intermediate (WTI) AS pun turun USD19,92, mendekati level terendah 18 tahun pada awal bulan ini, dan terakhir diperdagangkan turun 5,4%, atau USD1,17, pada USD20,34 per barel.

TErkait perang harga Arab Saudi-Rusia, pihak Arab Saudi akhir pekan lalu menegaskan bahwa tidak sedang dalam pembicaraan dengan Rusia untuk menyeimbangkan pasar minyak, meskipun meningkatnya tekanan dari Washington untuk menghentikan penurunan harga di tengah pandemi corona . Seorang pejabat senior Rusia mengatakan sebelumnya bahwa pada hari Jumat (27/3) bahwa sejumlah besar produsen minyak dapat bekerja sama dengan OPEC dan Rusia untuk mendukung harga.



"OPEC, Arab Saudi, dan Rusia dapat memperbaiki perbedaan mereka, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan OPEC. Guncangan permintaan dari COVID-19 terlalu besar," kata kepala penelitian komoditas National Australia Bank Lachlan Shaw, seperti dikutip Reuters, Senin (30/3/2020).

Kenyataannya, sambung dia, adalah penyimpanan global akan terisi dalam beberapa bulan jika tidak ada perubahan. Hal itu, tegas dia, akan memunculkan segala macam dampak yang mengganggu pada harga minyak mentah dunia.

Dengan permintaan sekarang yang diperkirakan turun 15 juta hingga 20 juta barel per hari, atau 20% dari tahun lalu, analis menilai pemotongan produksi besar-besaran diperlukan di luar OPEC untuk mengerek kembali harga minyak mentah dunia.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top